sebuah bangun ruang

Hanya sebuah pandangan hidup dengan segala keterbatasan tangga yang dilalui

e-think

ABCD"E"FGHIJK....

Rabu, 07 Desember 2011

Bulan tak bercahaya. Matahari tak terlihat.
Bintang tak berkilau. Manusia tak berjiwa.
Obrolan tak bersuara. Sunyi.

Ribuan kata tertelan. Pikiran buntu.
Semuanya tertahan untuk berapa lama?

Rasa butuh berubah muak.
Tak ada cerita untuk dibagi, tak ada pemikiran untuk dibahas.
Memang semua tak pernah terjadi.

Perbincangan bagaikan angin tak pernah hinggap.
Seperti sungai yang tidak memiliki air lagi.
Kering. Tak ada air yang tergenang untuk diminum. 

Saya sangat membutuhkan air.
Saya tidak pernah mendapatkannya.
Saya muak dan tidak membutuhkannya lagi.

Tidak ada yang perlu diperbincangkan lagi.

Senin, 28 November 2011

I am the one who hurts you. I am the one who screws everything.
But, too many apologizes I made, I can't say it anymore.
i don't want to lose you, I want you to be happy with me.
Nothing I can say but I'll prove it to you.
I can't tell you but I'll show you.
Please, please, trust me. Please, please.

Sabtu, 26 November 2011

"You asked the wrong questions"

"What question should I ask?"

"Has anything you've done made your life better?"

Jumat, 25 November 2011

bembi

Lo dimana, Bem? Ko tiba-tiba ngilang trus ga pernah balik lagi?
Ada kejadian apa? Gue ga pernah liat lo lagi.
Gue disini butuh pendapat lo.

quit

i quit from those habits. i have no more questions to ask.
i have no random thoughts. i live in presence.
i believe with no reasons. i have no plans.
i will make my self more stable.
i will put more stances in my life.

i love you period


"PREFER KNOWLEDGE TO WEALTH, FOR THE ONE TRANSITORY, THE OTHER PERPETUAL" -SOCRATES

Selasa, 25 Oktober 2011

Spelling my mind

It's just my own incantations, mostly indecipherable.

In my own settlement for doing this, in my own sanctuary I put my indignant looks.
You may think I'm not under my consciousness or I'm in my own solitary but responsibility to you is my command. You may think I won't survive or I will get along with my utopia but you are my consideration.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Having You by Shift

I was sitting in a class by my self, I was looking for a clue to what I'm doing. It was just a random thought that came to me. Just one simple question, what is it all about?

I realize this is a responsibility that I've been signing for since I have this irrational feeling, I signed it up to your name only. There's no relationship but I can feel the commitment. But, for you, I'm not the only one you signed up for.

I know you love me but I'm not the only one you are in love with.
I know you want me but I'm not the only one you fight for.
I know you are happy to be with me but I'm not the only one who can make you feel that way.
I know for sure, I'm the only one you put no label on it.
For me, you are still the one who finished my exploration.

Am I gratified with that?  

I am complete and fulfilled. 

Kamis, 20 Oktober 2011

What they called it 'home'

Right now, I'm sitting in a place, what they called as a 'home'. It's kinda weird because I don't feel at home at all. I'm writing a phenomena about how ironic this place compare to myself.

At first, as you guys know, there are a lot of dramas. People talking behind everyone's back, you can't trust everybody, people mind about other's business, gossiping each other, the hardest part is they stuck with their asumption without asking the subject, yeah drama is in here. So many people in here, in different groups, different topics, different lifestyle and they unite in one place, what they called it 'home'.

In this crazy place, in this pathetic field, in this drama part, I really need to find a person who can talk about the news with me, talk about many world issues, talk about life, talk about plans, talk about ourselves, talk about how to provide ourselves with an intellectual things, talk about our opinions in many things, we both have the same thought about reducing drama and less attach with those drama king and queen, we read books and talk about it after we finish it. I need that kind of person in my life, in my own world. Well, I can't deny that I have found it, few people, maybe only 3 of them. They are my goodfriends but they have different part of it. Sometimes, I can't imagine what a cheesy thought my life had if they were not there who can provide my self with those things.

I have to disagree with what they called it as a 'home'. For me, it's just another judgmental world of pathetic generations. No offense, it's just a another judgmental statement from an outsider like me.

Well, we just different. I'm gladly accept our differences with my ignorance attitude. We are living in a different way of life. I don't care about your life. That's life, people's differences, the best way to handle the differences is do not disturb each other and that's fair enough. Adios!

Senin, 10 Oktober 2011

Buku Hitam

Disaat bunga menjadi anak panah.
Disaat Tawa melahirkan airmata.
Disaat kebenaran menuntut kebijaksanaan.
Disaat ramai menggambarkan sepi.
Disaat langkah menyembunyikan ego.
Disaat rumah menghantarkan asing
Disaat pemberhentian mendatangkan kereta lagi.
Disaat lagu melantunkan muram.
Disaat hingar meramaikan tangis.
Disaat cinta menunggu karma.
Disaat sentuhan mendamaikan kutukan.
Disaat kotak menjadi kesendirian.
Hal yang paling menghibur adalah disaat harus melewati semuanya sendiri dan merasakan setiap lantunannya. Waktu tidak berputar terbalik dan hidup tidak pernah menunggu.

Minggu, 25 September 2011

untitled

seseorang berkata kepadaku :

"aku datang tidak berpakaian selayaknya oranglain yang ada disana, aku tidak membawa kitab suci seperti oranglain, aku tidak mengerti dengan ritual yang dijalankan, aku tidak mengikuti semua ritual yang ada disana, aku mengisi pundi yang dijalankan hanya secukupnya, aku tidak memberikan sesuatu yang besar dan wah. tapi, aku membawa keyakinanku, aku hanya membawa imanku dan aku berada disana karena aku merindukannya."


Sabtu, 17 September 2011

Kelembutan Malam

Malam ini, hujan menjemput.
Kutatap langit dan mencari teman setiaku.
Tak kutemukan dia di atas sana.
Hujan menenggelamnkan terangnya.

Malam ini, aku bersama dengan gembiraku.
Kita akan bertatapan, menari dengan kata-kata dan bersenda gurau dengan realita.
Aku dan kamu bercinta dengan dunia ini.

Malam ini, damai milik kita berdua. 
Berandai bersamamu, membuka helai demi helai, perlahan menanti kejutan yang akan kudapat.
Kamu yang selalu membuatku sampai di titik puncak.

Malam ini, dinginnya angin tidak akan mencengkam.
Semua kenikmatanku tertuju padamu.
Semua gairahku berpusat padamu.
Aku menyelesaikannya dengan perlahan, menikmati setiap titik pencerahan.

Malam ini, aku dan kamu menciptakan turbulensi mendalam, memiliki rahasia makna yang murni di dalam kita. 
Aku dan hanya kamu. 
Hanya aku dan kamu.

Malam ini kasihku, kubiarkan diriku terjatuh di dalam pelukanmu.
Malam ini jiwaku, walaupun tak kuselesaikan tapi kamu dapat menikmati fantasiku. 
Aku dan hanya kamu.
Hanya aku dan kamu. 
Malam ini.

Selasa, 13 September 2011

Kunci

You are the greatest lesson I ever had in my life. You taught me about life. To be with you, walking beside you, holding your hand, those feelings made me do something unreasonable. You made me learn how to believe something not even exist because I know for sure this feeling for you is real. Thank you so much.

Rasa

Apa gunanya berlari untuk tanpa ada patokan? Apa gunanya bersandar tanpa ada sandaran? Apa gunanya melihat tanpa ada yang dilihat? Apa gunanya belajar tapi tidak ada yang dipelajari?

Akhirnya, menghayati sesuatu yang tidak nyata. 

Senin, 22 Agustus 2011

21 tahun dan 7 hari

Saya berkelana, dari satu kereta ke kereta yang lain, saya turun di tempat yang saya inginkan dan di setiap terminal memiliki ceritanya masing-masing. Tidak di semua terminal berkahir dengan sempurna tapi ujungnya saya tau kapan saya harus turun. Mungkin saya mengibaratkan hidup saya seperti itu.

Hidup bukan tujuan, hidup itu sebuah perjalanan, hidup itu proses. Saya berpikir bahwa saya merasakan sesuatu yang sama sekali tidak nyata tetapi saya tau itu ada. Hidup penuh dengan hal yang tidak nyata tetapi diyakini ada. Ternyata hal yang tidak nyata itu tidaklah penting, sama sekali tidak penting. Hal-hal itu akan hilang karena memang tidak ada wujudnya. Hal itu masalah sepele yang bisa dikendalikan. 

Akhirnya, saya mengerti apa arti pulang, saya mengerti arti dari sebuah keluarga, saya mengerti apa yang ingin saya lakukan, saya mengerti apa yang harus saya pikirkan, saya mengerti apa yang harus saya perbuat, saya mengerti memilah-milah, saya mengerti beberapa hal mendasar yang membuat saya lebih mantap berjalan dengan diri saya sendiri. 

Saya mengerti apa arti pulang tetapi saya belum menemukan rumah saya, tempat saya keluar dari terminal. Saya belum menemukan rumah saya, tempat saya tidak memikirkan dan menunggu kereta-kereta itu. Saya belum menemukan rumah saya, tempat sesuatu yang tidak nyata tak berwujud menjadi suatu wujud nyata yang kongkrit.

Saya menantikan saat dimana rumah itu lebih berharga dari perjalanan saya. Sampai titik ini, saya masih berada di terminal dan menunggu kereta yang akan datang. Hidup saya sejauh ini sudah penuh dan saya bahagia dengan kedamaian yang berasal dari diri saya sendiri. Saya merasa cukup.

Kamis, 18 Agustus 2011

another letter to you

Mungkin disaat ini, terlalu cepat, saya akan turun dari kereta ini. Saya harus berhenti di pemberhentian yang sama sekali tidak saya inginkan. Selamat jalan. Kita akan bertemu lagi di peraduan kata-kata yang orang sebut dengan cerita.

Kamu tau apa yang aku rasakan, anggap saja aku tidak tau apa yang kamu rasakan. Kamu berada disini dan saya harus berhenti dari sesuatu yang saya mulai. Saya tau itu tidak mudah buat saya tapi saya bisa mengatasi semuanya.

Saya memutuskan ini untuk kamu, saya berjanji tidak akan egois dan akan membiarkan kamu pergi. Kamu tau kenapa semua ini harus berhenti. Walaupun tidak yakin tapi mungkin harus sudah selesai.

Senin, 15 Agustus 2011

counting hours

Wujud gas itu datang bersamaan dengan realita yang menjemput. Kemana semuanya pergi? Mengapa wujud gas itu tidak dapat menjadi realita padahal mereka datang bersamaan? 

Disaat ini entah mengapa wujud padat itu yang ada di kepalaku? Wujud padat yang nantinya akan berubah menjadi gas juga.

Tiba-tiba banyak sekali pertanyaan yang ada di kepala. Apa semuanya bisa terjawab? Tapi perlahan semuanya jadi terungkap. Apakah setiap hari itu datang akan mempersingkat pencarianku akan jawaban?

Aku belajar mengenai yang tak tampak. Aku belajar untuk menjadi kasatmata. Apakah waktuku cukup sementara aku tau dunia ini mempersingkat hidupku.

Jumat, 12 Agustus 2011

jari 1 tangan

Seperti kebanyakan manusia pada umumnya, tanganku mempunyai 5 jari. Jari-jariku tadinya berdiri tegak ditemani dengan kelima jariku di tangan yang satunya tetapi yang tersisa hanya 1 tangan ini. Dua hari yang lalu, kelima jariku masih dapat berdiri tegak dan sekarang hanya tinggal 3 yang terlihat. 

Entah mengapa, aku berharap jariku tidak tertutup semua dan aku masih dapat terus melihat ketiga jariku berdiri tegak.

Sabtu, 06 Agustus 2011

a letter to you

Untuk kamu.

Awal dari sebuah surat biasanya menanyakan kabar tapi aku ingin langsung mengatakan yang sebenarnya. Sebenarnya sudah lama aku memikirkan ini, pada awalnya aku sangat tidak yakin tetapi sekarang aku sangat yakin bahwa aku adalah seorang alien. Aku bukan berasal dari bumi tetapi aku terlena dengan kehidupan bumi sampai aku membiarkan diriku berpikir seperti manusia. Kehidupanku sebagai manusia, membuat teman-teman alienku bertanya, apa yang membuatmu begitu yakin? Kamu tau jawabannya. Aku memberikan jawaban-jawaban cliche yang biasanya akan langsung dimengerti. Kamu tau jawaban yang sebenarnya. Kita pernah mendiskusikan masalah ini.

Aku yakin kamu tau kalo aku sedang menjalani kehidupanku sebagai seorang alien, aku tidak berada di bumi lagi bersama dengan manusia. Seorang alien sebaiknya bersama alien agar tak ada yang harus berkorban dan dikorbankan. Kamu tau, saat aku menjadi seorang manusia, aku mencintai alien dan disaat aku menjadi alien, aku mencintai manusia. Aku mengerti kegelisahanmu, sangat mengerti.

Kamu tau semua cerita tentang kehidupan manusiaku sampai aku bertranformasi menjadi alien. Kamu tau apa yang aku hadapi, kamu tau apa yang ada di kepalaku, kamu tau apa yang ada di hatiku, kamu tau apa yang menjadi ketakutanku, kamu tau segalanya. Sampai akhirnya, kamu harus tidak tau apa-apa.

Aku salah, kamu terlalu mengenal aku sampai kamu membuatku memberitau segalanya. Kamu tetap tidak mengerti. Kamu tidak bertanya waktu yang kutempuh untuk ini semua. Mungkin, kamu berpikir ini hanya kesenangan sesaat tapi untuk kali ini kamu tidak akan tau. Kamu keindahan yang tidak sempurna, sangat pas dengan diriku dan membuatku membenci diriku, aku membenci dunia ini.

Aku seharusnya tidak membuatmu jatuh seperti ini. Beberapa hari ini, semuanya naik dan turun, kamu dan aku membicarakan segalanya. Aku tetap berada di titik itu tapi kamu melangkah maju dan mundur. Aku tidak pernah memaksa, kamu tau itu. Kalau semua ini hanya sementara, kenapa aku begitu yakin? Kenapa ini semua membuatku terhanyut dalam gelap? Kenapa ini semua bergejolak, bukan hanya pada diriku tapi pada dirimu juga. Ketakutan apa yang sedang kita hadapi? Apapun yang terjadi, kamu tau aku tidak akan pernah kemana-mana, kamu tau itu.  Kamu manusia dan aku alien. Aku sudah melayang meninggalkan bumi, sedangkan kakimu tertahan di bumi oleh manusia-manusia lainnya. Kamu membuatku peduli.

Aku seorang alien merantaikan kakiku di bumi hanya agar dapat terus berada di tempat yang selalu kamu kunjungi. Aku tak masalah apabila kamu bersama manusia-manusia itu, aku tak akan marah ataupun melarangmu. Aku menyadari kapasitasmu sehingga aku tidak akan menyeretmu ke tempatku yang tidak ada oksigen. Kamu bisa mati disana. Aku sadar semua ini akan berhenti dan kamu lebih memilih bersama manusia, aku akan bahagia bila kamu menemukan tawamu bersama mereka. Kamu merasa tidak aman dengan kenyamanan yang kamu dapatkan di diriku, hal itu membuatmu takut dan gelisah. Sudah kubilang, aku sangat mengerti kamu.

Aku tidak memintamu untuk melayang bersamaku dan menjadi alien untukku. Aku ingin kamu menjadi seorang manusia utuh yang menjalani kehidupan alien bersamaku dan aku akan memberikan kehidupan manusia seutuhnya kepadamu. Aku hanya ingin itu.

Bersama kamu, aku yakin. Aku tidak akan menghampiri jawaban tapi aku akan membiarkan jawaban menghampiriku. Ini bukan euforia seorang alien, ini keyakinan alien dengan pemikiran manusia.

NB : Surpriseeeeee!!!

arah absurd

Aku mengambil langkah. Aku tau sampai dimana aku berjalan. Di depanku sekarang ada langkah kanan, kiri dan lurus. Aku tidak tau arah yang harus aku telusuri. Aku melihat ke kanan, kiri dan depan, melihat sejauh mana mataku dapat memandang. Aku tetap tidak bisa melihat apapun, aku juga tidak mau menyimpulkan dan sok tau melangkah maju.

i'm still counting

Tinggal hitungan hari, 0 berubah menjadi 1, puluh menjadi puluhan, untung masih angka kecil belum beranjak ke angka yang semakin besar.

Aku mengambil sebuah gelas, menuangkannya dengan kekacauanku, meneguknya dengan keserakahanku, mengeluarkan asap yang memerihkan mataku dan akhirnya aku tergeletak jatuh di atas muntahku sendiri.

"Bagaimana menurutmu?"
"Tidak."

Aku mematikan lampu kamarku, menguncinya dan pergi ke tempat yang aku sendiri tak tau, membuat diriku tak mengenal arah, jalan terlihat begitu absurd, pemandangan hitam putih membuatku gelisah karena aku tak menemukan satu manusiapun untuk ditanya.

"Bagaimana menurutmu?"
"Tidak."

Aku pergi ke sebuah stasiun, bertanya ke tempat yang paling jauh dari tempat aku berada saat ini, membeli tiket kereta dan tak kembali untuk beberapa saat.

"Bagaimana menurutmu?"
"Tidak."

Aku berada di suatu tempat, lumayan jauh, mematikan handphone, mendengarkan lagu, melakukan ritualku sendiri, tak ada yang bisa menemuiku.

"Bagaimana menurutmu?"
Diam..
"Kenapa diam? Sudah tau mana yang telah aku lakukan?"
"Tidak satupun dari situ"


Jumat, 05 Agustus 2011

stasiun bercerita

Semua manusia tau bahwa lampu memberikan terangnya, kita tau darimana asal terang itu, kita dapat memegang sumber cahayanya tetapi kita tidak bisa memegang cahayanya, kita hanya bisa merasakannya. 

 Aku sempat berada di sebuah stasiun. Aku sempat tersesat. Aku sepertinya salah membaca tujuan tiketku. Aku berdiri di peron yang salah. Aku tampaknya terlalu yakin sampai aku naik ke atas kereta itu. Disaat petugas pengecekan tiket datang dan mengecek tiketku, dia mengatakan aku berada di kereta yang salah. Sesaat aku melihat tiketku, aku menyadari aku keliru. Petugas itu tidak memarahiku, dia menurunkanku di stasiun terdekat dan memberikan tiket gratis untuk kembali ke stasiun semula dan aku mendapatkan banyak pelajaran. Aku tiba di stasiun pertama dan tanpa pernah kusadari, kereta yang seharusnya kunaiki, menungguku dan ntah dari kapan dia meneriakkan namaku tapi aku tidak peduli. Aku terlalu terfokus dengan kekeliruanku, aku terlalu fokus dengan keyakinan diriku. Walaupun aku salah, kereta pertama mengajariku banyak hal dan mengantarkanku ke kereta yang seharusnya kunaiki. 

Aku naik ke dalam kereta itu, duduk diam, senang dan tenang karena kereta ini adalah kereta yang aku tuju. Aku sangat yakin kali ini. Saat aku duduk di dalam kereta itu, aku berpikir, Aku tau kereta ini akan berhenti di pemberhentian tujuannya yang akan menjadi tujuanku. Pada saat hal itu terjadi, aku akan turun dari kereta itu dan mengucapkan selamat tinggal. Kereta itu akan pergi melanjutkan perjalanannya dan aku berjalan pergi dengan kehidupanku. Pada akhirnya, aku dan kereta hanya akan dipertemukan kembali melalui sebuah cerita. 

Aku memikirkan mengenai akhir dari perjalanan ini dan aku memperkirakan akan menjadi seperti itu. Pikiran itu membuat saya menikmati moment yang ada saat ini dan membuat ini semua menjadi cerita terindah yang pernah ada. Mungkin menjadi cerita terindah dalam hidup saya dan mungkin juga saya bisa menjadi penumpang yang tak terlupakan oleh si kereta. Saya tidak tidur di dalam kereta itu, sebenarnya saya cukup gelisah karena saya tidak tau kapan kereta ini berhenti di tempat tujuan saya. Saya membiarkan kereta ini membawa saya, kereta ini memberikan keindahan yang luar biasa, melewati pemandangan indah yang tak pernah saya bayangkan. Pertanyaan yang menemani saat itu, kapan kereta ini berhenti di tempat tujuan saya? Setiap penumpang harus turun di tempatnya masing-masing agar dapat memenuhi kebutuhannya dan kereta dapat mengangkut penumpang lain dengan cerita yang berbeda. Apabila saya terus menjadi penumpang di dalamnya, mungkin ceritanya akan berbeda. Sejujurnya saya tidak apa yang akan terjadi. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti berpikir terlalu jauh dan menikmati waktu yang ada bersama kereta ini.

Hal yang pasti, semuanya pasti ada ujung, tempat pemberhentianku atau bukan tetapi selamat tinggal akan terucap. Ini semua akan menjadi rangkaian cerita terindah, tak terlupakan.


Sabtu, 30 Juli 2011

Places

Kita udah pergi entah kemana, ke beberapa tempat yang saya dan anda inginkan. Mungkin tempat-tempat itu tidak cukup indah atau tidak cukup sempurna untuk menjadi bagian dari memori-memori yang semua orang ingin dapatkan.

Ada 1 tempat yang ingin sekali saya kunjungi dan 1 pertanyaan mengenai tempat itu akan merubah segalanya. Saya tidak bodoh untuk bertanya sekarang dan saya tidak cukup pinter dalam menerima sebuah kejutan. Anda terlalu jauh berada disana, saya tidak sempat menanyakan sebuah pertanyaan dan saya terlalu bodoh untuk membuat rencana dari itu semua.

Tempat ini tidak istimewa sama sekali. Tahun yang berbeda disaat mengantarkan anda dan saya ke benua yang berbeda. Apa perlu hanya pernyataan bodoh (lagi)? Apa saya serius? Tentu saja tidak. Ini semua hanya sebuah inspirasi yang mengantarkan saya ke gerbang keseriusan. Tunggu saja di tahun yang berbeda.

Maaf berbelit-belit. Selamat Malam Anda!

Rabu, 06 Juli 2011

nearly unreal

gue ga bilang itu ga nyata tapi hampir mendekati ga nyata.

Well, i named it as a film's victim. what they thought about love but i have my own argument. This just my argument.

Setelah gue membuat diri gue jadi hobby dengan film cheesy indo yang pasti intinya adalah cinta, gue jadi melihat ada satu yang ga make sense aja.

Gimana kalo sebenarnya cinta itu memang gada tapi itu hanya sebuah masalah ketergantungan dan masalah publik??

Ketergantungan akan banyak hal. Tidak bisa dipungkiri, realita yang terlihat sekarang itu adalah orang berpasangan berdasarkan tipe dan mereka berdua setipe, setara.

Fisik merupakan poin pertama tapi bukan utama. Bagi yang melihat materi, ketergantungan dapat terjadi karena orang tersebut ada kuasa, uang, kehormatan dan biasanya masalah tampang akan menjadi salah satu tapi tetap bukan utama. Di sisi lain, ada orang yang hanya memerlukan teman ngobrol, teman berbagi susah dan senang, jalan-jalan atau apapun itulah. Inti dari keduanya itu adalah keamanan diri sendiri. Kalo masalah tampang, hanya orang bodoh aja yang bikin itu faktor utama. Sekarang yang menjadi faktor utama adalah pemenuhan kebutuhan. Semua itu typical.

Money, power, knowledge are the best thing people can get and everyone want it.

Disaat beban untuk mencari keamanan itu terus ada, SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) menjadi isu terbesar. Kalo dilihat dari realita yang ada seperti itu, maka yang orang katakan mengenai cinta itu banyak makna dalam arti filosofis tapi buat saya sendiri cinta itu typical.

Kenapa saya menyebut cinta itu typical? Karena basically, disaat kita mengatakan kita tidak melakukan apapun tanpa dia ataupun yang membuat rasanya pas ada dia, itu namanya kebiasaan dan ketergantungan. Kebiasaan dan ketergantungan itu timbul karena ada rasa aman yang dibawa oleh orang tersebut. Aman itu bisa dari berbagai aspek, mungkin keuangan, teman bicara, motivasi atau apapun.

Perasaan dan hati bukan berada di satu tempat. Hati mempunyai fungsi yaitu memfilter darah memproduksi empedu yang dapat menawar racun dan terletak di bawah diafragma di sebelah kanan manusia tapi perasaan itu ada di otak dengan fungsinya sebagai sensorik yang terletak di kepala. Perasaan yang ada juga tidak jauh dari pernyataan bahwa manusia adalah mahluk sosial yang mempunyai kepentingan. Cinta itu typical karena adanya kepentingan.

Coba dipikirkan antara cinta, ketergantungan, kepentingan, mahluk sosial, SARA, materi dan ketidak sempurnaan yang membuat adanya perselingkuhan. Semuanya nyambung dan make sense.

Cinta itu dibuat hanya hanya untuk melabelkan sesuatu yang typical agar lebih terlihat wah. Cintu itu buta, bla blablablabla itu hanya agar membuat label cinta yang berdasarkan hal diatas itu agak eksklusif, biar ketergantungan dan kepentingan bersadarkan diatas itu dianggap sah-sah aja.

Banyak orang bilang bahwa dengan menikah kita tidak sendiri. Hal itu sangat benar. Menikah hanya membuat yang aman menjadi terpaten aman dan ada hukum yang berlaku agar lebih aman. Manusia itu ga pernah puas pasti akan mencari lebih dan menikah merupakan hak paten bahwa orang itu ga boleh kemana-kemana. Menikah adalah langkah egois yang mengikat dan anak adalah korban keegoisan itu.

Coba dipikirkan mengenai cinta, ketergantungan, kebiasaan, menikah, mengikat, egois dan anak. Oiya, faktor umur jadi isu yang besar banget sekarang.

Cinta itu typical, ada kepentingan jadi ketergantungan karena merasa aman, belum puas dengan rasa aman itu, lalu ke tahap menikah agar lebih aman lagi, punya anak agar bisa semakin mengikat.

Terserah mau bilang gue skeptis tapi gue realistis. Kalaupun nanti gue menikah dan punya anak, itu semua karena mungkin realita itu juga bekerja di sistem hidup gue, kurang lebih seperti itu yang gue percaya. Kalo gue dapet cinta berarti gue sudah cukup merasa aman dalam segala hal. Gue hanya ngga mau bikin itu semua jadi disucikan karena cinta itu sendiri berubah-rubah, ngikutin zaman. Mungkin nanti kita semua bisa memberikan sedikit kelonggaran bagi generasi-generasi mendatang agar dapat memilih berdasarkan kepentingannya, tidak usah sangkut-pautin dengan SARA atau apapun karena untuk cari orang bisa memenuhi kebutuhan diri sendiri dan membuat aman aja udah susah, gimana kalo masih harus ada embel-embel yang lain. Lagian, kalo diri sendiri bisa memenuhi kebutuhannya ngapain harus terikat, kebutuhan biologis juga bisa didapatkan tanpa ada keterikatan. Rasanya yang baru gue sampaikan make sense dan realistis. Itu pemahaman gue. 

Senin, 04 Juli 2011

huruf "t"

Sejujurnya, saaya masih bingung dengan menggunakan huruf "t" dalam kata "tuhan" apa yang membuatnya harus menjadi huruf kapital? apa dasar keharusan huruf "t" itu harus kapital? Padahal menurut saya, kata tuhan itu sendiri sudah sangat istimewa.

Apabila dikatakan bahwa huruf kapital menunjukkan keistimewaan berarti pemaknaan terhadap keistimewaan itu dipaksakan. Pemaknaan biarlah menjadi bagian dari setiap manusia tidak usah dilegitimasi kepada huruf kapital atau tidak. Pemahaman yang dimaksudkan adalah kepada huruf "t" dalam kata tuhan. HANYA DALAM KATA TERSEBUT. 

Science dan Agama

Kenapa dalam keagamaan, keberadaan alien tidaklah diindahkan atau tidak diakui keberadaannya?

Sekarang sudah ada banyak para ilmuwan yang mencoba mencari keberadaan alien dengan pasti. Mungkin alien ini adalah suatu kepercayaan yang sangat berbeda antara agama dan sciene, saling bertabrakan. Adanya ufologist dan pendidikan mengarah sana, adanya penerimaan dari NASA untuk penelitian akan hal tersebut. Info tersebut dapat anda semua cari di google.

Point yang dapat saya ambil adalah dalam keagamaan diterangkan bahwa manusia adalah ciptaan yang paling mulia dan mahluk hidup tersebut hanya ada dalam bumi. Apakah yang menentang keberadaan alien tersebut adalah pernyataan itu? Apakah manusia yang menyangkal itu karena ketergantungan hidupnya terhadap agama dan ketuhanan sehingga memilih untuk tidak percaya?

Dalam keagamaan, adanya misteri-misteri yang tidak diungkapkan dan lebih kepada pasrah terhadap apa yang sudah ada. Dalam science, justru kebalikan, misteri-misteri itu akan terus dicari dan diungkapkan.

Para pemikir akan terus mencari jalan untuk mengungkapkan misteri-misteri yang ada. Para pemikir akan terus menembus garis-garis hitam yang memblok  pemikirannya.

Apakah nilai prinsipal dalam agama dan science yang terlihat bertentangan dapat disatukan? Sebenarnya bisa saja apabila argumen-argumen dalam science itu dapat dipertimbangkan oleh agama tanpa langsung menentangnya mentah-mentah. "Againts God's Will" mungkin akan dikatakan oleh para ahli agama untuk menentang itu semua. Apakah pernyataan itu merupakan tameng yang diberikan para ahli agama untuk melindungi kesucian dari kitab suci atau menutupi rasa masih ingin tergantung kepada yang mereka sebut tuhan? Apakah pernyataan tersebut digunakan karena ketidaksanggupan manusia pada umumnya untuk mencari tau?

Sah atau tidakkah pemikiran mengenai alien tersebut? Keagamaan menyatakan tidak karena menentang nila-nilai ketuhanan yang ada. Science menyatakan sah karena jagad raya ini ada untuk diungkapkan misteri yang ada. Agama menerima mentah dan percaya, science menerima dan ingin mematangkan dengan pencarian.

Pada dasarnya, manusia ingin mencari aman, agama digunakan sebagai instrumen untuk keamanan tersebut. Dalam agama, dipercaya bahwa manusia merasa aman dengan berpegang kepada yang lebih kuat yaitu, tuhan. Apabila semua misteri jagad raya ini terungkap, tidak adanya keistimewaan tuhan dalam kehidupan, tuhan dapat dicapai oleh manusia sehingga semua orang bisa menjadi tuhan. Jadi, misteri-misteri yang ada membuat keistimewaan tuhan dan science ingin mengungkapkan misteri-misteri tersebut yang berujung kepada ketidakistimewaan tuhan.

Bila science dapat mengungkapkan  semua misteri yang ada, maka agama dan tuhan tidak istimewa, berarti manusia adalah tuhan, hilangnya mitos perasaan aman dari berpegang teguh kepada tuhan.

Jadi sebenarnya kalau dikaji ulang memang tidak bisa disatukan antara keduanya.

Kita bisa percaya keduanya tetapi tidak bisa menganut keduanya. Mungkin hal diatas dapat mengungkapkan dasar pemikiran Nietzche, "mengapa manusia tidak bisa menjadi superman".

Minggu, 03 Juli 2011

"Bem, udah bacakan yang barusan gue ketik di blog?"
"Udah. Kenapa ga di publish?"
"Ga penting."
"Rahasia?"
"Udah beberapa tahun."

"Kenapa percakapan kita di publish?"
"Supaya bikin kepo aja."
"Sok oke lo!"

"Ke Ocha juga ga pernah dibilang?"
"Mungkin udah, mungkin belom."
"Lho?"
"Lupa."

"Lo aja baru tau."
"Trus?"
"Apalagi Ocha. Dia belum bisa cukup ngerti kayaknya, Bem."
"Ko gitu?"
"Gue gamau diketawain. Gue gamau bikin sahabat gue sama kayak orang-orang yang bikin gue sangat insecure. Kalo kayak gini, gue tau batasan dia untuk bikin gue insecure.

"Bem,ko diem?"
"Gapapa."
"Perasaan lo agak ga enak."
"Terserah lo aja. Tidur gih, besok kuliah. Gue pergi dulu."
"Lho? Kemana?"
"Gatau."

Bembi pergi. Gatau mungkin kata yang paling tepat. Gue gini lagi.

Bukan Apa-Apa

Semalem Bembi cerita sama gue banyak banget soal yang selama ini gue sendiri gatau.
Entah kenapa selama ini ditutup-tutupin. Gue sendiri gatau harus cerita sama siapa dan kayaknya nulis disini udah langkah yang paling tepat. Biasanya Bembi ga pernah nutupin apapun dari gue.

Dia cerita kalo selama ini yang gue bingungin itu ada di kebingungannya dia. Bembi seseorang yang biasanya terbuka, kali ini nutupin perasaannya dari gue walaupun sebenernya dia gabisa boong. Sempet gue ngerasain perasaan dia tapi gabisa gue tolak karena keinginan dia yang terlalu besar. Bembi bukan suka sama guelah pastinya, sempet sama beberapa orang. Gue tau orangnya dan kalo gada si Bembi, gue mah biasa aja sama tuh orang malah mungkin ilfeel. Bembi dah tuh yang nutup-nutupin jadinya bikin gue kelabakan sendiri nanggepin tuh orang-orang yang dia demen.

Ada beberapa hal yang akhirnya gue sendiri tau dengan jelas. Setelah diceritain semuanya sama Bembi. Gue sendiri gatau harus cerita ke siapa masalah ini. Semua orang mungkin ga akan ngerti kecuali gue bahas langsung sama Bembi. Ada part-part yang akhirnya gue ngerti dan gue ga mungkin ngebahas ini ke sembarang orang mungkin tidak ke semua orang. Akhir-akhir ini gue sama Bembi cukup intens, sangat intens malah jadi ada beberapa hal yang akhirnya gue sadarin. Gue gabisa ceritain itu di blog ini juga. Lebih baik gue simpen aja kali ya. Hmm.. Bembi yang selama ini lebih jago nulis, ngomong dan ngayal. Bukan gue.

Gue sangat mengerti sekarang keadaannya gimana. Hubungan gue dan Bembi juga semakin jelas. Bembi perlahan-lahan ngasih liat ke gue. Mudah-mudahan gini teruslah tapi dengan batasan yang jelas.

Sabtu, 02 Juli 2011

Curhatan hati Ega kepada Bembi

HAHAHAHA Pemaksaan yang gue buat agar Ega mau mengetik dan gue mendikte.

Tiba-tiba abis nonton United States of Tara season 3, Ega jadi agak sedikit sentimentil. Entah kenapa dia tiba-tiba agak curcol dan agak dramatis (Ega gamau ngetik yang sebenarnya terjadi hahahha).

Seperti biasa dia bertanya tentang kekesalan yang baru terjadi dan rasanya menjadi grown up. Well, gue hanya bisa berkata yang seperti kemarin. Nyokapnya kaget sama mungkin sama perubahan dia dan nyokapnya belum bisa terima kalo dia udah cukup besar untuk diajak komunikasi. Orangtua selalu menganggap anaknya masih kecil jadi kaget dengan perubahaannya.

 EGA : Oke, ini part gue. Gue hanya mau menanggapi. Gue gabisa tau pikiran nyokap kayak gimana dan apa yang dia rasain kalo dia ga ngomong. Gue sama dia butuh waktu kali. (Bembi berisik!!)

Oke, kembali ke part gue ya, EGA!! This is my blog!!

EGA : This is ours!!

Hmm.. Whatever!! Sesuai judul seharusnya ini bagian gue.
Pointnya adalah setelah lo mengerti semuanya dan tau harus bagaimana dan gue menganggap lo mengetahui situasinya jadi gue menganggap lo sedikit melodramatis (ehem banyak si maksudnya). Di samping itu, barusan ega memberikan jari tengahnya ke gue yang cukup menyakitkan hati ---> Bembi lebay. Dibalik marah-marahnya Ega ke gue dan dibalik semua kesinisannya, Ega baru saja mengakui bahwa SHE NEEDS ME AROUND HER ALWAYS! Dia mengakui ketakutannya dan pikiran-pikirannya yang hanya bisa di-share ke gue. Ehem.. Banyak yang sudah di share sih. OIYA, EGA BILANG SHE LOVES ME SO MUCH AND SHE DOESN'T WANT TO LOSE ME!!!

HAHAHAHA.... Itu singkat cerita yang bisa gue kasitau yang pastinya sudah banyak yang diedit sama Ega. Gue hanya duduk di kasurnya dia sambil ketawa-ketawa menyuruh dia mengetik semua ini. SAYA PUAS!!!!!

NB : I LOVE YOU MORE, EGA SWEETY BUNNY!! Don't be such a melodramatic person, please mate!!

EGA : Anjrittttttt apa-apaan itu "ega sweety bunny" thing??? GROSS!! i know you, Bem! I'm watching you. Grrrrr.. Thanks a lot, dude!!

Jumat, 01 Juli 2011

Dear Bembi,

Maaf yang Bembi sayang gue marah-marah.

Lo nya juga berisik banget sih. Gue cuman pengen lo dengerin gue kayak biasanya aja kalo gue lagi kesel dan baru bisa kita bahas kalo gue udah ga kesel-kesel banget walaupun ujung-ujungnya lo akan kena semprot juga. Gue ngerti ko daritadi gue nanya-nanyain lo soal wajar ga gue kesel kayak gini sampe langsung balik ke Bandung. Lo ngertikan Bem, rasanya udah muncak banget soal semuanya. Gue ga ngerti apa-apa soal di rumah. Lo yang paling ngerti gue, Bem. Tindakan lo kali ini seolah-olah lo ga ngerti gue lagi. Keadaan bokap nyokap udah cukup ngeganggu gue dan mungkin salah gue karena gue mencari ketenangan di tempat yang salah. Gue cuman pengen ngobrol aja sama nyokap tentang semua hal di rumah dan gue bisa ngasih pertimbangan setidaknya ada kontribusi gue di rumah. Gue merasa gue udah cukup gede untuk tau, rasanya gue udah cukup dewasa untuk memberikan pertimbangan, rasanya gue ngerasa sudah cukup dewasa untuk mengikuti perkembangan yang ada di rumah. Selama gue di rumah, gue ngerasa kayak pendatang, ga dianggep dan mungkin ini kali ya rasanya grow up, saat yang tadinya cuek jadi ingin tau aja keadaan rumah sebenernya gimana.

Gausah panjang lebarlah ya surat gue buat lo soalnya kita juga lagi ngobrol ini sekarang. Intinya, gue minta maaf ya Bem tiba-tiba marahin lo. Yaudah,mari kita lanjutkan obrolan kita dan bersenang-senang.

 Gue gatau jadinya gimana emosi gue kalo gada lo yang berisik. Ada gunanya juga. Makasi buat semua perbicaraan kita selama ini. I love you, Bembi.

- EGA-

NB : stop cengin gue!

Kekesalan Ega dari sisi Bembi

Beberapa hari ini Ega kesal.

Hari Selasa Ega kelar UTS dan kembali ke Jakarta dengan harapan Dia nyampe rumah, masuk kamar, AC nyala udah dingin, buah ada dan Dia bisa tidur dengan nyenyak.

Saudaranya dari Medan datang dan ternyata pergi ke Bandung. Setelah ditanya kepada ibunya, mobilnya dipake oleh saudara-saudaranya. Dia mengalah.

Sesampainya di rumah, harapannya buyar saat Dia masuk kamar dan di dalam kamarnya ada banyak koper yang sudah pasti milik saudara-saudaranya. Dia mulai kesal.

Saat Dia tanya kepada ibunya ternyata memang benar itu milik saudaranya.
Saat itu Dia juga mengalah. Malam sesampainya Dia di Jakarta, Dia mengatakan kepada ibunya bahwa besok Dia harus memakai mobil karena harus pergi. Ibunya mengatakan tidak masalah.

Keesokan harinya, ternyata semuanya tidak semulus yang Dia perkirakan. Dia dan ibunya bertengkar.

Hanya hari Rabu Ega memakai mobil, Kamis dan Jumat Ega tidak membuat rencana apapun karena tidak ingin mengganggu kesibukan ayah dan ibunya.

Hari Jumat, kekesalan Ega memuncak karena saat Ega bertanya apakah hari Minggu Dia bisa membawa mobilnya untuk ke Bandung, lalu Ibunya menjawab tidak bisa karena masih ada urusan. Kekesalan Ega memuncak karena tidak ada pemberitahuan apapun.

Ega mencoba meredam emosinya dengan tidak langsung marah-marah. Ega menganggap bahwa semuanya dapat dibicarakan dengan baik-baik dan Ega masih ingin ketenangan.

Disaat emosi Ega sudah mereda, Ega mencoba membicarakan hal tersebut kepada ibunya tetapi ibunya menanggapi semuanya dengan marah. Ega sangat kesal dan memutuskan saat itu juga untuk ke Bandung.

Masalah sepele yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan tetapi Ega hanya ingin adanya komunikasi apalagi yang menyangkut dengan dirinya. Ega pulang ke rumah dengan harapan bahwa semuanya akan tenang. Ega sama sekali tidak mempersoalkan masalah mobil dan kamar yang dipakai tetapi masalahnya adalah tidak adanya komunikasi.

"Bem,gue kesel aja karena rasanya gue sama sekali tidak dianggap di dalam rumah itu. Kepentingan gue sama sekali tidak dihargai. Gue ga suka hanya dengan alasan keluarga, kepentingan gue tidak dipertimbangkan ataupun dikompromikan. Gue ke Jakarta cuman pengen tenang. Kalaupun ada perubahan-perubahan setidaknya gue tau memposisikan diri. Gue berasa kayak tamu di rumah gue sendiri. Rasanya gue lebih tenang di Bandung, walaupun sama sekali tidak terfasilitasi sebaik di rumah tapi gue ngerasa aman."

"Ga,setidaknyakan lo udah ngomong. Mungkin nyokap lo juga butuh mikirlah."

"Bem,gue inget kata-katanya Dia supaya gue bisa mengendalikan emosi gue. Gue coba ko, Bem. Gue ngomong baik-baik sama Dia. Gue bilang supaya lain kali kalo ada apa-apa ngomong apalagi kalo yang menyangkut gue."

"Ga,tapi itukan keluarga lo juga. Mungkin nyokap lo ngerasa semua hal itu ga penting juga untuk dibicarakan karena nyokap lo ngerasa lo akan mengerti."

"Bem,keluarga isinya juga orang. Mereka emang keluarga tapi gue anaknya. Keluarga yang dateng tetep pendatang. Gada yang ga penting kalo menyangkut kepentingan gue. Apa salahnya Dia bilang kalo mobil gue akan dipake sampe minggu depan karena ada keperluan-keperluan ini itu, apa salahnya Dia bilang kalo kamar gue akan dipake sama saudara-saudara gue karena mereka cukup banyak. Apa pertimbangan dan kepentingan gue ga penting?"

"Ga..."

"Udahlah Bem, lo taukan gimana keadaan rumah gue? Gue sama sekali ga pernah dikasitau. Gue ga pernah disuruh duduk dan dikasitau semua kondisi yang ada. Gue selalu disuruh ngerti dengan keadaan yang gue sendiri ga ngerti. Gue bukan anak SD lagi yang bisa terima-terima aja. Gue udah gede dan gue udah berhak untuk ngasih pertimbangan. Kalo mereka mau seenaknya, gausah sekolain gue tinggi-tinggi biar gue sama sekali gausah mikir."

"Ga,nyokap lo juga emosi mungkin."

"Halah, emang Dia pikir Dia doang yang emosi? Gue juga! Awalnya, mobil gue di Jakarta karena Dia bilang mobilnya Dia di-service. Kalo Dia ngomong, gue fine. Gue udah janji sama Bang Imas juga buat minjemin Dia mobil di Bandung dan gue udah bilang sama nyokap tapi tiba-tiba sodara gue dateng dan seenaknya Dia rubah semuanya."

"Pasti ada sisi dari nyokap lo yang lo gatau."

"Mungkin iya, makanya gue ajak Dia ngomong supaya gue tau dari sisi Dia gimana dan biar Dia tau dari sisi gue gimana. Gue ga pake marah, Bem. Cape gue di posisi yang harus ngerti tapi gue gatau apa-apa. Mau sampe kapan?"

"Lo di Bandung dululah kalo gitu. Jangan kesel-kesel lagi."

"Yaudah, gue kayak gini aja. Terserahlah di otaknya Dia gue anak kayak apa. Gue ga peduli. Dia juga gamau tau apa yang ada di otak gue. Makanlah tuh sodaranya Dia, makanlah tuh semua kepentingannya Dia. Gue berusaha gamau ganggu kepentingan Dia makanya selama gue di Jakarta gue anteng aja di rumah dan kalo mau pergi juga ngikut yang searah sama Dia. Ga pernah diliat sama Dia, Bem. Gue di Bandung ajalah biar ngga ngebebanin Dia."

"Yaa, tapi ngga gitulah, Ga."

"Udah deh Bem, kalaupun lo ngerasa gue salah, iya gue salah. Terserah, tapi gue gamau aja masalah barang aja diributin. Mendingan gue anteng di kosan."

"Ga...."

"Bem,anjing ya lo! Plis lah, gausah sok mau solusi dan jalan tengah. Gue kesel."

"Ga...."

"Bem,diem ajalah! Biarin gue pendem aja keselnya dan lo jangan nambain."

"Ga..."

"DIEM!!!!!!! PLISSSSS!!!!!"

Endingnya gue dimarain sama Ega juga padahal gue cuman pengen ngehibur supaya Dia bete-bete aja. Tapi ujung-ujungnya Ega ketawa-ketawa juga ko sama gue. Hehehhe.. Jangan bete-bete yaaa Egaaaaa.

Rabu, 29 Juni 2011

Adam&Hawa

"Adam dan Hawa itu menikah atau tidak?"

Jadi begini,
Secara simpel, Adam dan Hawa menikah tapi bukan di taman eden tetapi saat mereka sudah di bumi.

Konsep dasarnya adalah Adam merupakan manusia pertama di bumi. Hawa merupakan manusia kedua. Tuhan dan Iblis adalah kembar tapi sifat berbeda. Tuhan maha-positif (yang bagus-bagus), Iblis maha-negatif (yang jelek-jelek) dan dua-duanya maha-sakti.

Suatu hari, Hawa sedang berkeliling di taman eden lalu dia melihat ada seorang lelaki yang sangat amat ganteng dan memanggil Hawa. Lelaki itu merayu Hawa dan singkat cerita, Hawa termakan oleh rayuannya dan mereka melakukan hubungan seksual. Tanpa disadari oleh Hawa bahwa dia telah bersetubuh dengan Iblis yang menyamar sebagai seorang lelaki yang sangat ganteng.

Lalu, Tuhan mengetahui hal itu dan murka. Adam dan Hawa yang sedang hamil akhirnya dikeluarkan oleh Tuhan dari taman eden. Ternyata, Adam dikeluarkan dari taman eden karena juga mengikuti nafsu birahinya saat Iblis menjelma sebagai seorang wanita yang sangat cantik.

Adam dan Hawa hidup di bumi dan akhirnya Tuhan membuat sebuah lembaga pernikahan agar nyawa-nyawa yang ada di dalam perut wanita mengetahui dengan jelas siapa ayah dan ibunya, siapa yang akan membesarkannya.

Siapa yang menjadi penghulunya? Penghulunya adalah utusan Tuhan. Padahal, lembaga pernikahan itu merupakan lembaga tertinggi tetapi dari awal Tuhan tidak menjadi penguhulunya. Hal tersebut terjadi kemurkaan Tuhan terhadap Adam dan Hawa sehingga diutuslah oranglain, hal itu juga sama terjadi di dunia sampai saat ini.

Kenapa Adam dan Hawa dikeluarkan dari taman eden? Karena Tuhan kalah taroan sama Iblis. Taroannya kalo Adam dan Hawa tergoda maka mereka dikeluarkan dari taman eden. Kekalahan tersebut membuat Tuhan murka dan membuat Adam dan Hawa dikutuk sampai keturunan-keturunannya juga merasakan. Adam dan semua lelaki harus bekerja untuk menafkahi korban sperma yang dikeluarkan atas nafsu mereka dan menghidupi hasil sperma dan ovum yang sudah berwujud. Hawa dan semua wanita harus merasakan sakit yang sangat disaat mewujudkan imajinasi menjadi sebuah wujud nyata.

Kenapa justru sebuah pohon yang disalahkan dan menjadi korban? Justru bukan hanya pohon yang dikorbankan tetapi binatang-binatang juga. Pohon itu disalahkan karena disanalah Iblis berhasil menguasai Adam dan Hawa. Binatang-binatang yang tadinya bisa berbicara dikutuk untuk tidak bisa berbicara agar aib yang ada di dalam taman eden tidak terbongkar.

Anak pertama dari Adam dan Hawa membunuh adiknya karena rasa iri. Hal tersebut terlihat bahwa anak tersebut merupakan hasil dari Hawa dan Iblis. Jadi, wajar apabila manusia berbuat dosa karena kita ini merupakan keturunan Hawa dan Iblis.

Jadi, singkat cerita, setelah itu terjadilah fenomena-fenomena dan drama yang tervisualisasi. Tuhan akhirnya di salib untuk menebus dosa manusia dan merasa bersalah membuat manusia sebagai ajang taroan dan dikeluarkan dari taman eden. Tuhan merasa ini semua kesalahan dia karena taroan sama Iblis.



HAHAHAHA Hal diatas merupakan becandaan antara Bembi dan Ega karena diberikan pertanyaan seperti di atas.

Cerita Adam dan Hawa ini hanya fiktif belaka berdasarkan imajinasi liar tanpa adanya riset. Jadi, pure imagination. Paralogis yang berbahaya sih.

NB : Yakinilah yang anda yakinin.



Selasa, 28 Juni 2011

stereotype

Tiba-tiba kepikiran bahwa pikiran kita sudah terbangun dengan sebuah stereotype.

Pertanyaan, lo pengen cowo kayak gimana?
Jawabannya secara umum sangatlah sama.

Pertanyaan, lo pengen cewe kayak gimana?
Jawabannya secara umum sangatlah sama.

Akhirnya semua orang-orang berlomba untuk mengikuti stereotype tresebut.
Sangat disayangkan, stereotype itu juga bukan yang bersifat abadi karena berubah-ubah terus.
Hal tersebut, didasari dengan sifat manusia yang bosenan dan ga pernah puas.

Kasian aja melihat fenomena yang ada sekarang bahwa hidup itu adalah persaingan menuju stereotype yang terus berubah. Pengkontaminasian tersebut diciptakan melalui media-media yang ada dan terbawalah manusia ke arah sana. Sayangnya, si Ega akan masuk ke dalam dunia media dan menjadi salah satu orang yang berkontribusi dalam pemberian pengaruh kepada masyarakat.

Padahal, dalam ilmu pasti sendiri, ukuran good looking sehingga menjadi enak dipandang sampai tidak sudah ada skalanya. Nama skalanya saya lupa.

Pertanyaan teman saya,"Kenapa daun yang berguguran itu diliatnya bagus?"
Jawab yang saya berikan,"Secara filosofis, kita sebagai manusia sudah sangat terbiasa dengan sistem sehingga disaat kita melihat sistem dari mahluk hidup lain dan secara konsisten dijalankan, kita akan melihat keindahannya."

Lalu bagaimana dengan seni? Saya pribadi tidak mengerti dengan apa yang disebut dengan seni. Interpretasi seni itu berbeda-beda. Entah mengapa, buat saya, seni itu adalah sistem sehingga terlalu untuk dijabarkan. Sistem ada dimana-mana di segala aspek kehidupan begitu juga dengan seni. Pemahaman saya mengenai seni hanya sampai disana.

Jadi stereotype itu adalah bagian dari sistem tetapi bukan berada langsung di bawah sistem tetapi masuk ke dalam sub-sub yang ada di bawah sistem.

days after days

end up dengan pertanyaan, what's next?
end up dengan jawaban, tailah kenapa pertanyaannya itu terus?

Hidup ini sistem, manusia ada di dalam sistem dan menjadi aktor utama dalam menjalankan sebuah sistem.
Menurut postmodernisme, kebenaran itu bukan hanya 1 karena setiap individu bebas dalam memaknakan apapun untuk dirinya tetapi tidak sampai ke sebuah tindakan. Aktor-aktor utama tersebut membuat sebuah negara sehingga menurut realisme, aktor utama adalah negara. Postpositivisme mengatakan bahwa objek itu adalah suatu yang dipahami dan pemaham itu adalah subjek. Objek itu sudah ada tetapi apakah subjek itu mampu memahaminya atau tidak. Tetapi akhirnya, konstruktivisme mengatakan kami bukan either/or tapi both/and yang mengutamakan materi dan ide utuh.

Nah,hal tersebut memang benar adanya disaat realisme, postmodernisme, neo-postpositivisme, rasionalisme dan  konstruktivisme saling menentang tetapi mempunyai satu benang merah yang besar yang akhirnya membawa kita kepada sebuah pemahaman baru mengenai pemikiran manusia sendiri.

Pertanyaan yang paling tepat adalah disaat benang merah tersambung, tidak ada fanatisme terhadap suatu konsep, pemikiran baru macam apa yang akan muncul?

Hal yang tergambar di pikiran saya adalah disaat para subjek memahami betul mengenai objek yang ada, apa yang akan terjadi? Apakah dengan pemahaman itu sistem menjadi teralienisasi karena sistem bukanlah suatu given yang digambarkan tetapi sesuatu yang dibentuk? Apabila hal itu terjadi, sistem yang tadinya besar dan mencangkup semua orang, akhirnya, mengecil dan di dalamnya hanya ada satu individu. Sistem yang awalnya 1 menjadi banyak sesuai dengan individu yang ada tetapi hal yang menyelaraskan semua sistem itu adalah tujuan. 

Pertanyaan selanjutnya, kapan hal itu akan terjadi? Tatanan macam apa yang akan terbentuk? Apa yang akan terjadi dengan manusia?

Manusia yang selalu menjadi aktor utama juga bergantung kepada mahluk hidup lainnya, seperti hewan dan tumbuhan. Apa mahluk hidup tersebut juga bisa dijadikan aktor utama? Mungkin yang jadi jawabannya, hewan dan tumbuhan tidak memiliki akal budi sehingga mereka hanya bergantung kepada sistem dan siklus yang sudah ada. Apakah dengan ini, kehidupan manusia nantinya yang sudah memiliki sistem manusia membuat mahluk hidup lainnya punah?

Senin, 27 Juni 2011

50 hari

"Ga, 50 hari lagi."
"Kenapa diitung, Bem?"
"Kadonya kira-kira apa ya, Ga?"
"Biru Hijau."
"Kenapa itu?"
"Biar lo ga kemana-mana lagi, Bem."
"Penjarain gue ya, Ga?"
"Iya. Setelah Biru Hijau akan banyak yang lain lagi supaya lo ga bisa kemana-mana."

Makna 50 hari lagi buat dia bukan sebuah kado ataupun harapan-harapan umum seperti yang diucapkan orang pada umumnya. Makna 50 hari lagi buat adalah sebuah tindakan untuk memenjarakan saya.

"Untung buat lo apa, Ga?"
"Sebuah kata yang melebihi senyum."
"Senyum dari sebuah pemenjaraan?"
"Iya."
"Setiap hari gue bisa senyum tanpa dipenjara."
"Lo bukan hanya senyum saat gue penjara."
"Seumur hidup?"
"Seumur hidup."
"Janji?"

Makna 50 hari lagi buat dia pemenjaraan tanpa pengesahan janji. Dia hanya meminta kata-kata.

"Bem, kenapa harus janji? Seolah lo tidak menikmati."
"Ga, kenapa gue harus dipenjara? Seolah lo tidak menikmati."

Saya tau dia takut menghadapi 50 hari lagi. Saya tau dia melebihi siapapun.

"50 hari lagi, Ga."
"Iya, Bem."
"Sudah siap, Ga?"
"Tidak siap."

Saya mengenal dia.

"Lo di tangga keberapa, Ga?"
"Itu yang paling gue takut."
"Sesuai ga?"
"Logikanya mengatakan iya."
"Logika berdasarkan sesuatu yang imajiner?"

Saya mengerti dia.

"Bem,logika berdasarkan sesuatu yang imajiner seperti blur."
"Jawabannya tidak pasti."

Saya menerima dia.

"Bem,gue ngerti, satu-satunya jawaban yang pasti adalah diri gue."

Saya memeluk dia, dia memeluk saya.

"Bem, satu hal yang paling nyata di hidup gue adalah jumlah rokok gue sekarang tinggal 1 batang."

Tangga dan Angka

Sebentar lagi akan secara resmi untuk masuk ke klub malam, membeli minuman keras, menonton film kategori dewasa, 50 hari lagi dianggap dewasa. Secara resmi rasanya semua hal yang tadinya tabu menjadi tidak tabu, tadinya tidak pantas menjadi pantas, tadinya ilegal menjadi legal.

Tangga. Sebuah langkah imajiner yang menentukan tingkat kedewasaan, tempat dimana kaki berpijak. Hanya sebuah analogi.

Sebuah teori yang entah darimana datangnya saat teringat mengenai 50 hari. Tangga dan umur seharusnya berbanding lurus sama seperti pengetahuan dan tingkat kelas. Seharusnya begitu.

50 hari lagi = 21 tahun, seharusnya saya berada di tangga ke berapa? 21 kah?

Setiap tangga menghabiskan 1 tahun untuk dapat naik ke tangga selanjutnya. Setiap tangga memberikan 365 hari untuk belajar tapi bagaimana kalo kita tidak pernah belajar? Bagaimana kalo kita terlalu banyak belajar? Idealnya pastilah harus pas.

Menurut saya tidak begitu.

Tangga dan umur adalah 2 hal yang berbeda. Perbedaannya antara realita dan maya tetapi saling mempengaruhi.

Tangga merupakan pengetahun yang bersifat maya, tak tampak tetapi mempengaruhi realita. Tangga menentukan bagaimana kita menghadapi realita itu sendiri. Bagaimana disaat kita memaknakan apa yang kita terima, bagaimana kita membentuk sistem kerja otak yang mengatur semua yang keluar berdasarkan apa yang kita terima. Tangga itu tidak terencana, dapat datang dan pergi, dapat diingat dan terlupa.

Umur hanya sebuah angka berdasarkan apa yang akan kita hadapi. Umur itu terencana dan pasti kecuali takdir yang menentukan kapan saatnya mati. Umur itu tersusun, sudah jelas, ada konsekuensi apabila tidak mengikuti sistem dari umur itu. Umur yang menentukan bagaimana mengeluarkan pengetahuan berdasarkan tangga-tangga tersebut.

Hmm.. ngerti ga?

contoh kasus, saya berumur 21 tahun kurang 50 hari. Pada saat ini seharusnya sudah skripsi dan menjadi angkatan 2008 tetapi karena saya tidak mengikuti sistem yang ada sehingga menjadi angkatan 2009 dan harus menungu tahun depan untuk skripsi. Hal yang baru saya sebutkan adalah sebuah yang pasti yaitu mengenai umur dan yang seharusnya saya hadapi berdasarkan umur saya. Menurut tangga, saya sudah memikirkan bagaimana membuat diri saya bertahan tanpa bergantung dengan oranglain, bagaimana saya harus menghadapi hidup dan bagaimana langkah-langkah saya selanjutnya. Saya melihat orang disekitar saya, saya memilih orang-orang yang saya datangi dan ajak bicara, saya memilih buku-buku yang saya baca, saya tidak terlalu peduli dengan yang orang-orang bicarakan, saya tidak terlalu peduli dengan tanggapan oranglain, saya tidak terlalu peduli dengan quote-quote orang terkenal karena saya sudah membentuk tindakan yang akan saya keluarkan. Hal yang baru saya bicarakan adalah tangga, didapat disaat saya benar-benar memaknakan sesuatu.

Begini, tangga merupakan titik penentu dari umur, maksudnya adalah tangga merupakan tolak ukur bagaimana tindakan kita di saat umur tertentu.

Kita dapat naik ke tangga selanjutnya tergantung dari seberapa banyak pengetahuan yang kita dapat dan sejauh apa tindakan yang dapat diambil bergantung keberadaan kita di tangga keberapa.

Pengetahuan bukan hanya mata pelajaran di sekolah dan mata kuliah di kampus tetapi pengetahuan adalah jagad raya ini. Tangga menjadi tolak ukur bagi diri sendiri, pemacu tindakan.

Umur bukan hanya sebuah angka atas legalitas tetapi umur merupakan suatu sistem pasti yang dilihat banyak orang, menjadi tolak ukur bagi oranglain. Umur merupakan tindakan.

Lebih baik keduanya seimbang agar memeluk masa lalu, menikmati masa kini, melihat masa depan.

Ujung-ujungnya, tangga dan angka. Imajiner dan pasti. Countless and countable.

Kamis, 23 Juni 2011

Sekitaran

Sudah 2 tahun rasanya aku berada di sekitaran tempat ini. Kuakui memang banyak yang aku lihat, mungkin terlalu banyak.

Sekitaran menjelaskan lingkungan yang ada di sekitarku. Aku bagian dari sekitaran itu, sempat berada disana.

Aku tidak mencoba memisahkan diri dari sekitaran itu tetapi mungkin terlalu banyak yang aku lihat sampai aku sempat tidak tau dimana diriku dengan semua sekitaran yang ada.

Aku tidak menghakimi apapun tapi untungnya orang-orang paling terdekatku mengingatkanku untuk kembali ke langkah awal. Aku menertawakan diriku karena kebodohan yang membuatku tak sempat menyadari kapasitas diriku, disaat aku terlalu sombong dengan semua teori yang ada tanpa implementasi. Aku tertawa disaat aku terjatuh dan pelarian bodoh yang aku ambil mendatangkan malapetaka. Aku terlalu cepat menyimpulkan dengan semua tawa yang ada. Aku terlalu terlena dengan ilusi yang aku buat. Ya, aku terlalu jauh.

Aku kembali ke titik 0 dimana aku mengambil sisa-sisa yang dulu menjadi kehidupanku dan memilih mana yang akan aku bawa dari sekitaran sekarang. Aku menjalani keduanya tetapi lebih berat kepada kehidupanku yang lama.

Semua orang akan kembali ke titik 0 dan aku juga begitu.

Sekitaranku adalah tontonanku dan hal yang pasti sekarang adalah diriku dimana aku memilih waktu untuk menonton dan memilih tontonan mana yang akan aku masuki. Aku yang menentukan sekitaranku bukan sekitaranku yang menentukanku.

Kujamin, bukan hanya teori.

undefined


Aku memberikan Hawa kepada Adam.
Aku memberikan bintang kepada langit.
Aku memberikan bulan kepada bumi.
Aku memberikan damai di hati.
Aku memberikan kehidupan.
Aku memberikan kematian.
Aku memberikan semuanya.
Aku yang mengambil semuanya.

Aku terlihat lembut di satu sisi.
Aku terlihat kasar di satu sisi.
Aku terlihat damai di satu sisi.
Aku terlihat marah di satu sisi.
Aku terlihat kuat di satu sisi.
Aku terlihat lemah di satu sisi.

Aku dapat terlihat di semua sisi.
Aku terlihat dengan semua sudut pandang yang ada.
Aku berada di semua karakter yang ada di jagad raya ini.

Semua orang mengangung-agungkan Aku.
Semua orang menghina-hina Aku.
Semua orang mencoba mencari Aku.
Semua orang tak lagi mencari Aku.
Semua orang percaya kepada Aku.
Semua orang tidak percaya kepada Aku.
Semua orang mencintai Aku.
Semua orang membenci Aku.
Semuanya tertuju kepada Aku.

Aku mulai berpikir, siapa aku?
Aku mulai bertanya, aku tau.

Aku simbol-simbol yang mereka katakan.
Aku bukan simbol-simbol yang mereka katakan.
Aku berada di semua institusi.
Aku tidak berada di semua institusi.
Aku ada.
Aku tidak ada.

Sayangnya, Aku adalah subjek dari objek-objek yang ada.
Sayangnya, Aku adalah objek dari subjek-subjek yang ada.
Sayangnya, Aku adalah Aku.

Untunya, Aku tetap tak terdefinisi.

Rabu, 22 Juni 2011

Kertas


Selembar kertas seolah memiliki sayap, tertiup angin, terbang bebas di udara tak menemukan tempat perhentian yang pas. 

Angin meniupnya, penasaran dengan tulisan yang tertulis di kertas tersebut.

"Sekian lama aku telah berkelana." 

Sang angin tak mengerti makna dari tulisan itu tetapi angin mengerti kesenduan dan kesepian dari makna kalimat tersebut.

Angin tak dapat berbicara, begitu juga kertas.

Angin menjalankan pekerjaannya, seolah memberikan sayap yang tak tampak.

Kertas berhenti di sebuah ruangan berwarna hitam, seolah angin memberikannya waktu untuk beristirahat. Tetapi tak lama, kertas mengikuti angin untuk kembali terbang.

Pemberhentian selanjutnya di sebuah ruangan berwarna ungu, angin memberikannya ketenangan untuk diam, tetapi kertas tetap mencari angin untuk terbang.

Pemberhentian selanjutnya di sebuah ruangan berwarna merah, angin memberikannya tempat yang terbaik, tetapi kertas tetap dengan kesepiannya dan mencari angin untuk terbang kembali.

Kertas terus terbang walaupun angin memberikannya waktu untuk beristirahat di ruangan berwarna kuning, merah muda, hijau dan biru. Kertas tak dapat bertahan.

Angin menyerah dan membiarkan kertas untuk terus terbang, tanpa memaksanya untuk berhenti dan beristirahat.

Kertas dan angin hanya terbang membisu.

Angin terus menjalankan pekerjaannya, dan tanpa disadarinya, kertas telah berbelok dan berhenti dengan sendirinya di sebuah dinding berwarna putih.

Angin melihat sekilas, kesepian kertas telah hilang.

"Sekian lama aku berkelana. Akhirnya, aku menemukan tempat aku berlabuh."

Rabu, 15 Juni 2011

rumah kecil

Pada saat ini, saya tinggal di sebuah rumah kecil yang entah kapan mulai saya bangun.

Dulu, saya tinggal di rumah yang besar dengan beberapa orang dan entah sejak kapan saya pindah ke rumah saya sendiri. Saya membawa banyak souvenir dari rumah saya dengan orang-orang itu. Sebagian isi dari rumah saya berisi souvenir-souvenir itu dan setengahnya lagi sedang saya isi.

Saya akan menceritakan tentang rumah saya.

Rumah kecil saya dulu tidak mempunyai taman tetapi banyak jendela sehingga membuat saya terlalu banyak melihat keluar. Dulu, di sekeliling rumah saya banyak sekali orang yang setiap hari tertawa, bersenang-senang dan melakukan hal yang saya tau tidak sesuai dengan diri saya. Dulu, tanpa mengetuk orang-orang itu dapat masuk ke rumah saya dengan mudahnya dan dengan mudahnya juga saya keluar dari rumah saya dan bergabung dengan mereka. Rumah saya dan rumah mereka tidak memakai tembok yang menjadi batasan sehingga membuat saya dengan mudahnya juga untuk bergabung dengan mereka. Dulu, hampir seluruh hari saya bersama mereka dan saya tidak pernah membersihkan rumah saya bahkan duduk di rumah sayapun hampir tidak pernah, membuat saya sempat hilang dan rumah itu seperti tidak bertuan. Mungkin kalau dulu saya ditanya isi rumah saya, saya akan menjawab, saya tidak tau. Hal yang paling bodoh yang pernah saya pikirkan adalah saya membenci rumah saya dan ingin pindah rumah.

Banyak hal yang terjadi di luaran sana, di luar rumah saya. Saya akui, terjadi keributan di luar rumah saya tetapi anehnya disaat saya ketakutan dan ingin pulang, saya merasa saya berada jauh sekali dari rumah dan saya sempat tersesat di jalan pulang. Aneh, saat rasanya saya sudah yakin bahwa saya sudah berada di depan rumah, saya melihat ke kanan kiri, saya menjadi tidak yakin karena rumah saya sama saja dengan rumah yang lainnya tidak ada bedanya. Saya terdiam tetapi masih ada keyakinan bahwa rumah yang ada di depan saya adalah rumah saya.

Saya masuk ke dalam dan benar itu rumah saya. Saya berkeliling dan melihat kembali isi dari rumah saya. Memori-memori lama itu berdatangan, menghujani pikiran saya sangat deras.

Perjalanan diluar rumah tersebut, membuat saya merenovasi sedikit rumah saya. Rumah kecil saya sekarang ada taman kecil yang membuat saya dapat membedakan rumah saya dengan yang rumah yang lainnya. Rumah saya ada tembok pendek yang menjadi pembatas dengan rumah lainnya, lalu jendela yang tadi begitu banyak, sebagian saya tutup dan saya memilih jendela mana yang saya lihat hari demi hari. Semua orang-orang itu masih berada di luar tapi tidak setiap hari saya melihat ke jendela yang mengarah ke tempat mereka berada. Tidak semua orang dapat masuk ke dalam rumah saya, hanya orang-orang yang saya pilih yang akan dibukakan pintu.

Saya berkeliling di dalam rumah, melihat souvenir yang saya dapat dari perjalanan diluar rumah. Jendela demi jendela saya kunjungi, saya mengisi rumah saya dengan hal-hal yang saya perlukan dan senangi.

Rumah saya kecil tapi akan terus diperbesar.


Selasa, 14 Juni 2011

kacamata tua

saya punya blogspot sebelumnya tetapi sepertinya email saya untuk blogspot sudah di non-aktif-kan. Blog saya sebelumnya masih ada, saya membaca ulang dan saya menyadari bahwa blog itu adalah langkah saya menuju blog ini. Menurut saya, langkah pendewasaan saya sampai saya berada di titik ini.

saya mempunyai blog di website lain tetapi menurut saya kurang adanya privasi. mungkin pertanyaannya, kenapa saya membuat blog secara online apabila itu untuk konsumsi pribadi? kenapa saya tidak menulis di buku diari saya atau di notepad komputer saya tanpa mem-publish itu?

mungkin, jawabannya saya senang berasumsi. saya mem-publish ini agar saya berasumsi bahwa blog ini dibaca orang tanpa sepengetahuan saya. mungkin, jawabannya saya merasa pikiran dan khayalan saya tidak terakomodir dengan baik sehingga saya dapat berasumsi ada orang yang membaca ini dan dapat mengerti. Mungkin jawabannya, saya hanya ingin mengingat perjalanan saya, langkah yang saya ambil tanpa memperdulikan siapa yang akan membaca ini. mungkin jawabannya, saya hanya ingin tetap berada di dunia saya sendiri tanpa ada orang yang benar-benar masuk ke dalamnya tetapi orang-orang tau bahwa dunia saya itu ada. mungkin saja, jawabannya tidak ada tetapi saya percaya itu ada.

saya hanya seseorang yang memakai kacamata tua berwarna coklat.