Tiba-tiba kepikiran bahwa pikiran kita sudah terbangun dengan sebuah stereotype.
Pertanyaan, lo pengen cowo kayak gimana?
Jawabannya secara umum sangatlah sama.
Pertanyaan, lo pengen cewe kayak gimana?
Jawabannya secara umum sangatlah sama.
Akhirnya semua orang-orang berlomba untuk mengikuti stereotype tresebut.
Sangat disayangkan, stereotype itu juga bukan yang bersifat abadi karena berubah-ubah terus.
Hal tersebut, didasari dengan sifat manusia yang bosenan dan ga pernah puas.
Kasian aja melihat fenomena yang ada sekarang bahwa hidup itu adalah persaingan menuju stereotype yang terus berubah. Pengkontaminasian tersebut diciptakan melalui media-media yang ada dan terbawalah manusia ke arah sana. Sayangnya, si Ega akan masuk ke dalam dunia media dan menjadi salah satu orang yang berkontribusi dalam pemberian pengaruh kepada masyarakat.
Padahal, dalam ilmu pasti sendiri, ukuran good looking sehingga menjadi enak dipandang sampai tidak sudah ada skalanya. Nama skalanya saya lupa.
Pertanyaan teman saya,"Kenapa daun yang berguguran itu diliatnya bagus?"
Jawab yang saya berikan,"Secara filosofis, kita sebagai manusia sudah sangat terbiasa dengan sistem sehingga disaat kita melihat sistem dari mahluk hidup lain dan secara konsisten dijalankan, kita akan melihat keindahannya."
Lalu bagaimana dengan seni? Saya pribadi tidak mengerti dengan apa yang disebut dengan seni. Interpretasi seni itu berbeda-beda. Entah mengapa, buat saya, seni itu adalah sistem sehingga terlalu untuk dijabarkan. Sistem ada dimana-mana di segala aspek kehidupan begitu juga dengan seni. Pemahaman saya mengenai seni hanya sampai disana.
Jadi stereotype itu adalah bagian dari sistem tetapi bukan berada langsung di bawah sistem tetapi masuk ke dalam sub-sub yang ada di bawah sistem.
Pertanyaan, lo pengen cowo kayak gimana?
Jawabannya secara umum sangatlah sama.
Pertanyaan, lo pengen cewe kayak gimana?
Jawabannya secara umum sangatlah sama.
Akhirnya semua orang-orang berlomba untuk mengikuti stereotype tresebut.
Sangat disayangkan, stereotype itu juga bukan yang bersifat abadi karena berubah-ubah terus.
Hal tersebut, didasari dengan sifat manusia yang bosenan dan ga pernah puas.
Kasian aja melihat fenomena yang ada sekarang bahwa hidup itu adalah persaingan menuju stereotype yang terus berubah. Pengkontaminasian tersebut diciptakan melalui media-media yang ada dan terbawalah manusia ke arah sana. Sayangnya, si Ega akan masuk ke dalam dunia media dan menjadi salah satu orang yang berkontribusi dalam pemberian pengaruh kepada masyarakat.
Padahal, dalam ilmu pasti sendiri, ukuran good looking sehingga menjadi enak dipandang sampai tidak sudah ada skalanya. Nama skalanya saya lupa.
Pertanyaan teman saya,"Kenapa daun yang berguguran itu diliatnya bagus?"
Jawab yang saya berikan,"Secara filosofis, kita sebagai manusia sudah sangat terbiasa dengan sistem sehingga disaat kita melihat sistem dari mahluk hidup lain dan secara konsisten dijalankan, kita akan melihat keindahannya."
Lalu bagaimana dengan seni? Saya pribadi tidak mengerti dengan apa yang disebut dengan seni. Interpretasi seni itu berbeda-beda. Entah mengapa, buat saya, seni itu adalah sistem sehingga terlalu untuk dijabarkan. Sistem ada dimana-mana di segala aspek kehidupan begitu juga dengan seni. Pemahaman saya mengenai seni hanya sampai disana.
Jadi stereotype itu adalah bagian dari sistem tetapi bukan berada langsung di bawah sistem tetapi masuk ke dalam sub-sub yang ada di bawah sistem.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar