Pada saat ini, saya tinggal di sebuah rumah kecil yang entah kapan mulai saya bangun.
Dulu, saya tinggal di rumah yang besar dengan beberapa orang dan entah sejak kapan saya pindah ke rumah saya sendiri. Saya membawa banyak souvenir dari rumah saya dengan orang-orang itu. Sebagian isi dari rumah saya berisi souvenir-souvenir itu dan setengahnya lagi sedang saya isi.
Saya akan menceritakan tentang rumah saya.
Rumah kecil saya dulu tidak mempunyai taman tetapi banyak jendela sehingga membuat saya terlalu banyak melihat keluar. Dulu, di sekeliling rumah saya banyak sekali orang yang setiap hari tertawa, bersenang-senang dan melakukan hal yang saya tau tidak sesuai dengan diri saya. Dulu, tanpa mengetuk orang-orang itu dapat masuk ke rumah saya dengan mudahnya dan dengan mudahnya juga saya keluar dari rumah saya dan bergabung dengan mereka. Rumah saya dan rumah mereka tidak memakai tembok yang menjadi batasan sehingga membuat saya dengan mudahnya juga untuk bergabung dengan mereka. Dulu, hampir seluruh hari saya bersama mereka dan saya tidak pernah membersihkan rumah saya bahkan duduk di rumah sayapun hampir tidak pernah, membuat saya sempat hilang dan rumah itu seperti tidak bertuan. Mungkin kalau dulu saya ditanya isi rumah saya, saya akan menjawab, saya tidak tau. Hal yang paling bodoh yang pernah saya pikirkan adalah saya membenci rumah saya dan ingin pindah rumah.
Banyak hal yang terjadi di luaran sana, di luar rumah saya. Saya akui, terjadi keributan di luar rumah saya tetapi anehnya disaat saya ketakutan dan ingin pulang, saya merasa saya berada jauh sekali dari rumah dan saya sempat tersesat di jalan pulang. Aneh, saat rasanya saya sudah yakin bahwa saya sudah berada di depan rumah, saya melihat ke kanan kiri, saya menjadi tidak yakin karena rumah saya sama saja dengan rumah yang lainnya tidak ada bedanya. Saya terdiam tetapi masih ada keyakinan bahwa rumah yang ada di depan saya adalah rumah saya.
Saya masuk ke dalam dan benar itu rumah saya. Saya berkeliling dan melihat kembali isi dari rumah saya. Memori-memori lama itu berdatangan, menghujani pikiran saya sangat deras.
Perjalanan diluar rumah tersebut, membuat saya merenovasi sedikit rumah saya. Rumah kecil saya sekarang ada taman kecil yang membuat saya dapat membedakan rumah saya dengan yang rumah yang lainnya. Rumah saya ada tembok pendek yang menjadi pembatas dengan rumah lainnya, lalu jendela yang tadi begitu banyak, sebagian saya tutup dan saya memilih jendela mana yang saya lihat hari demi hari. Semua orang-orang itu masih berada di luar tapi tidak setiap hari saya melihat ke jendela yang mengarah ke tempat mereka berada. Tidak semua orang dapat masuk ke dalam rumah saya, hanya orang-orang yang saya pilih yang akan dibukakan pintu.
Saya berkeliling di dalam rumah, melihat souvenir yang saya dapat dari perjalanan diluar rumah. Jendela demi jendela saya kunjungi, saya mengisi rumah saya dengan hal-hal yang saya perlukan dan senangi.
Rumah saya kecil tapi akan terus diperbesar.
Dulu, saya tinggal di rumah yang besar dengan beberapa orang dan entah sejak kapan saya pindah ke rumah saya sendiri. Saya membawa banyak souvenir dari rumah saya dengan orang-orang itu. Sebagian isi dari rumah saya berisi souvenir-souvenir itu dan setengahnya lagi sedang saya isi.
Saya akan menceritakan tentang rumah saya.
Rumah kecil saya dulu tidak mempunyai taman tetapi banyak jendela sehingga membuat saya terlalu banyak melihat keluar. Dulu, di sekeliling rumah saya banyak sekali orang yang setiap hari tertawa, bersenang-senang dan melakukan hal yang saya tau tidak sesuai dengan diri saya. Dulu, tanpa mengetuk orang-orang itu dapat masuk ke rumah saya dengan mudahnya dan dengan mudahnya juga saya keluar dari rumah saya dan bergabung dengan mereka. Rumah saya dan rumah mereka tidak memakai tembok yang menjadi batasan sehingga membuat saya dengan mudahnya juga untuk bergabung dengan mereka. Dulu, hampir seluruh hari saya bersama mereka dan saya tidak pernah membersihkan rumah saya bahkan duduk di rumah sayapun hampir tidak pernah, membuat saya sempat hilang dan rumah itu seperti tidak bertuan. Mungkin kalau dulu saya ditanya isi rumah saya, saya akan menjawab, saya tidak tau. Hal yang paling bodoh yang pernah saya pikirkan adalah saya membenci rumah saya dan ingin pindah rumah.
Banyak hal yang terjadi di luaran sana, di luar rumah saya. Saya akui, terjadi keributan di luar rumah saya tetapi anehnya disaat saya ketakutan dan ingin pulang, saya merasa saya berada jauh sekali dari rumah dan saya sempat tersesat di jalan pulang. Aneh, saat rasanya saya sudah yakin bahwa saya sudah berada di depan rumah, saya melihat ke kanan kiri, saya menjadi tidak yakin karena rumah saya sama saja dengan rumah yang lainnya tidak ada bedanya. Saya terdiam tetapi masih ada keyakinan bahwa rumah yang ada di depan saya adalah rumah saya.
Saya masuk ke dalam dan benar itu rumah saya. Saya berkeliling dan melihat kembali isi dari rumah saya. Memori-memori lama itu berdatangan, menghujani pikiran saya sangat deras.
Perjalanan diluar rumah tersebut, membuat saya merenovasi sedikit rumah saya. Rumah kecil saya sekarang ada taman kecil yang membuat saya dapat membedakan rumah saya dengan yang rumah yang lainnya. Rumah saya ada tembok pendek yang menjadi pembatas dengan rumah lainnya, lalu jendela yang tadi begitu banyak, sebagian saya tutup dan saya memilih jendela mana yang saya lihat hari demi hari. Semua orang-orang itu masih berada di luar tapi tidak setiap hari saya melihat ke jendela yang mengarah ke tempat mereka berada. Tidak semua orang dapat masuk ke dalam rumah saya, hanya orang-orang yang saya pilih yang akan dibukakan pintu.
Saya berkeliling di dalam rumah, melihat souvenir yang saya dapat dari perjalanan diluar rumah. Jendela demi jendela saya kunjungi, saya mengisi rumah saya dengan hal-hal yang saya perlukan dan senangi.
Rumah saya kecil tapi akan terus diperbesar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar