Selembar kertas seolah memiliki sayap, tertiup angin, terbang bebas di udara tak menemukan tempat perhentian yang pas.
Angin meniupnya, penasaran dengan tulisan yang tertulis di kertas tersebut.
"Sekian lama aku telah berkelana."
Sang angin tak mengerti makna dari tulisan itu tetapi angin mengerti kesenduan dan kesepian dari makna kalimat tersebut.
Angin tak dapat berbicara, begitu juga kertas.
Angin menjalankan pekerjaannya, seolah memberikan sayap yang tak tampak.
Kertas berhenti di sebuah ruangan berwarna hitam, seolah angin memberikannya waktu untuk beristirahat. Tetapi tak lama, kertas mengikuti angin untuk kembali terbang.
Pemberhentian selanjutnya di sebuah ruangan berwarna ungu, angin memberikannya ketenangan untuk diam, tetapi kertas tetap mencari angin untuk terbang.
Pemberhentian selanjutnya di sebuah ruangan berwarna merah, angin memberikannya tempat yang terbaik, tetapi kertas tetap dengan kesepiannya dan mencari angin untuk terbang kembali.
Kertas terus terbang walaupun angin memberikannya waktu untuk beristirahat di ruangan berwarna kuning, merah muda, hijau dan biru. Kertas tak dapat bertahan.
Angin menyerah dan membiarkan kertas untuk terus terbang, tanpa memaksanya untuk berhenti dan beristirahat.
Kertas dan angin hanya terbang membisu.
Angin terus menjalankan pekerjaannya, dan tanpa disadarinya, kertas telah berbelok dan berhenti dengan sendirinya di sebuah dinding berwarna putih.
Angin melihat sekilas, kesepian kertas telah hilang.
"Sekian lama aku berkelana. Akhirnya, aku menemukan tempat aku berlabuh."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar