Kenapa dalam keagamaan, keberadaan alien tidaklah diindahkan atau tidak diakui keberadaannya?
Sekarang sudah ada banyak para ilmuwan yang mencoba mencari keberadaan alien dengan pasti. Mungkin alien ini adalah suatu kepercayaan yang sangat berbeda antara agama dan sciene, saling bertabrakan. Adanya ufologist dan pendidikan mengarah sana, adanya penerimaan dari NASA untuk penelitian akan hal tersebut. Info tersebut dapat anda semua cari di google.
Point yang dapat saya ambil adalah dalam keagamaan diterangkan bahwa manusia adalah ciptaan yang paling mulia dan mahluk hidup tersebut hanya ada dalam bumi. Apakah yang menentang keberadaan alien tersebut adalah pernyataan itu? Apakah manusia yang menyangkal itu karena ketergantungan hidupnya terhadap agama dan ketuhanan sehingga memilih untuk tidak percaya?
Dalam keagamaan, adanya misteri-misteri yang tidak diungkapkan dan lebih kepada pasrah terhadap apa yang sudah ada. Dalam science, justru kebalikan, misteri-misteri itu akan terus dicari dan diungkapkan.
Para pemikir akan terus mencari jalan untuk mengungkapkan misteri-misteri yang ada. Para pemikir akan terus menembus garis-garis hitam yang memblok pemikirannya.
Apakah nilai prinsipal dalam agama dan science yang terlihat bertentangan dapat disatukan? Sebenarnya bisa saja apabila argumen-argumen dalam science itu dapat dipertimbangkan oleh agama tanpa langsung menentangnya mentah-mentah. "Againts God's Will" mungkin akan dikatakan oleh para ahli agama untuk menentang itu semua. Apakah pernyataan itu merupakan tameng yang diberikan para ahli agama untuk melindungi kesucian dari kitab suci atau menutupi rasa masih ingin tergantung kepada yang mereka sebut tuhan? Apakah pernyataan tersebut digunakan karena ketidaksanggupan manusia pada umumnya untuk mencari tau?
Sah atau tidakkah pemikiran mengenai alien tersebut? Keagamaan menyatakan tidak karena menentang nila-nilai ketuhanan yang ada. Science menyatakan sah karena jagad raya ini ada untuk diungkapkan misteri yang ada. Agama menerima mentah dan percaya, science menerima dan ingin mematangkan dengan pencarian.
Pada dasarnya, manusia ingin mencari aman, agama digunakan sebagai instrumen untuk keamanan tersebut. Dalam agama, dipercaya bahwa manusia merasa aman dengan berpegang kepada yang lebih kuat yaitu, tuhan. Apabila semua misteri jagad raya ini terungkap, tidak adanya keistimewaan tuhan dalam kehidupan, tuhan dapat dicapai oleh manusia sehingga semua orang bisa menjadi tuhan. Jadi, misteri-misteri yang ada membuat keistimewaan tuhan dan science ingin mengungkapkan misteri-misteri tersebut yang berujung kepada ketidakistimewaan tuhan.
Bila science dapat mengungkapkan semua misteri yang ada, maka agama dan tuhan tidak istimewa, berarti manusia adalah tuhan, hilangnya mitos perasaan aman dari berpegang teguh kepada tuhan.
Jadi sebenarnya kalau dikaji ulang memang tidak bisa disatukan antara keduanya.
Kita bisa percaya keduanya tetapi tidak bisa menganut keduanya. Mungkin hal diatas dapat mengungkapkan dasar pemikiran Nietzche, "mengapa manusia tidak bisa menjadi superman".
Sekarang sudah ada banyak para ilmuwan yang mencoba mencari keberadaan alien dengan pasti. Mungkin alien ini adalah suatu kepercayaan yang sangat berbeda antara agama dan sciene, saling bertabrakan. Adanya ufologist dan pendidikan mengarah sana, adanya penerimaan dari NASA untuk penelitian akan hal tersebut. Info tersebut dapat anda semua cari di google.
Point yang dapat saya ambil adalah dalam keagamaan diterangkan bahwa manusia adalah ciptaan yang paling mulia dan mahluk hidup tersebut hanya ada dalam bumi. Apakah yang menentang keberadaan alien tersebut adalah pernyataan itu? Apakah manusia yang menyangkal itu karena ketergantungan hidupnya terhadap agama dan ketuhanan sehingga memilih untuk tidak percaya?
Dalam keagamaan, adanya misteri-misteri yang tidak diungkapkan dan lebih kepada pasrah terhadap apa yang sudah ada. Dalam science, justru kebalikan, misteri-misteri itu akan terus dicari dan diungkapkan.
Para pemikir akan terus mencari jalan untuk mengungkapkan misteri-misteri yang ada. Para pemikir akan terus menembus garis-garis hitam yang memblok pemikirannya.
Apakah nilai prinsipal dalam agama dan science yang terlihat bertentangan dapat disatukan? Sebenarnya bisa saja apabila argumen-argumen dalam science itu dapat dipertimbangkan oleh agama tanpa langsung menentangnya mentah-mentah. "Againts God's Will" mungkin akan dikatakan oleh para ahli agama untuk menentang itu semua. Apakah pernyataan itu merupakan tameng yang diberikan para ahli agama untuk melindungi kesucian dari kitab suci atau menutupi rasa masih ingin tergantung kepada yang mereka sebut tuhan? Apakah pernyataan tersebut digunakan karena ketidaksanggupan manusia pada umumnya untuk mencari tau?
Sah atau tidakkah pemikiran mengenai alien tersebut? Keagamaan menyatakan tidak karena menentang nila-nilai ketuhanan yang ada. Science menyatakan sah karena jagad raya ini ada untuk diungkapkan misteri yang ada. Agama menerima mentah dan percaya, science menerima dan ingin mematangkan dengan pencarian.
Pada dasarnya, manusia ingin mencari aman, agama digunakan sebagai instrumen untuk keamanan tersebut. Dalam agama, dipercaya bahwa manusia merasa aman dengan berpegang kepada yang lebih kuat yaitu, tuhan. Apabila semua misteri jagad raya ini terungkap, tidak adanya keistimewaan tuhan dalam kehidupan, tuhan dapat dicapai oleh manusia sehingga semua orang bisa menjadi tuhan. Jadi, misteri-misteri yang ada membuat keistimewaan tuhan dan science ingin mengungkapkan misteri-misteri tersebut yang berujung kepada ketidakistimewaan tuhan.
Bila science dapat mengungkapkan semua misteri yang ada, maka agama dan tuhan tidak istimewa, berarti manusia adalah tuhan, hilangnya mitos perasaan aman dari berpegang teguh kepada tuhan.
Jadi sebenarnya kalau dikaji ulang memang tidak bisa disatukan antara keduanya.
Kita bisa percaya keduanya tetapi tidak bisa menganut keduanya. Mungkin hal diatas dapat mengungkapkan dasar pemikiran Nietzche, "mengapa manusia tidak bisa menjadi superman".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar