sebuah bangun ruang

Hanya sebuah pandangan hidup dengan segala keterbatasan tangga yang dilalui

e-think

ABCD"E"FGHIJK....

Senin, 27 Juni 2011

Tangga dan Angka

Sebentar lagi akan secara resmi untuk masuk ke klub malam, membeli minuman keras, menonton film kategori dewasa, 50 hari lagi dianggap dewasa. Secara resmi rasanya semua hal yang tadinya tabu menjadi tidak tabu, tadinya tidak pantas menjadi pantas, tadinya ilegal menjadi legal.

Tangga. Sebuah langkah imajiner yang menentukan tingkat kedewasaan, tempat dimana kaki berpijak. Hanya sebuah analogi.

Sebuah teori yang entah darimana datangnya saat teringat mengenai 50 hari. Tangga dan umur seharusnya berbanding lurus sama seperti pengetahuan dan tingkat kelas. Seharusnya begitu.

50 hari lagi = 21 tahun, seharusnya saya berada di tangga ke berapa? 21 kah?

Setiap tangga menghabiskan 1 tahun untuk dapat naik ke tangga selanjutnya. Setiap tangga memberikan 365 hari untuk belajar tapi bagaimana kalo kita tidak pernah belajar? Bagaimana kalo kita terlalu banyak belajar? Idealnya pastilah harus pas.

Menurut saya tidak begitu.

Tangga dan umur adalah 2 hal yang berbeda. Perbedaannya antara realita dan maya tetapi saling mempengaruhi.

Tangga merupakan pengetahun yang bersifat maya, tak tampak tetapi mempengaruhi realita. Tangga menentukan bagaimana kita menghadapi realita itu sendiri. Bagaimana disaat kita memaknakan apa yang kita terima, bagaimana kita membentuk sistem kerja otak yang mengatur semua yang keluar berdasarkan apa yang kita terima. Tangga itu tidak terencana, dapat datang dan pergi, dapat diingat dan terlupa.

Umur hanya sebuah angka berdasarkan apa yang akan kita hadapi. Umur itu terencana dan pasti kecuali takdir yang menentukan kapan saatnya mati. Umur itu tersusun, sudah jelas, ada konsekuensi apabila tidak mengikuti sistem dari umur itu. Umur yang menentukan bagaimana mengeluarkan pengetahuan berdasarkan tangga-tangga tersebut.

Hmm.. ngerti ga?

contoh kasus, saya berumur 21 tahun kurang 50 hari. Pada saat ini seharusnya sudah skripsi dan menjadi angkatan 2008 tetapi karena saya tidak mengikuti sistem yang ada sehingga menjadi angkatan 2009 dan harus menungu tahun depan untuk skripsi. Hal yang baru saya sebutkan adalah sebuah yang pasti yaitu mengenai umur dan yang seharusnya saya hadapi berdasarkan umur saya. Menurut tangga, saya sudah memikirkan bagaimana membuat diri saya bertahan tanpa bergantung dengan oranglain, bagaimana saya harus menghadapi hidup dan bagaimana langkah-langkah saya selanjutnya. Saya melihat orang disekitar saya, saya memilih orang-orang yang saya datangi dan ajak bicara, saya memilih buku-buku yang saya baca, saya tidak terlalu peduli dengan yang orang-orang bicarakan, saya tidak terlalu peduli dengan tanggapan oranglain, saya tidak terlalu peduli dengan quote-quote orang terkenal karena saya sudah membentuk tindakan yang akan saya keluarkan. Hal yang baru saya bicarakan adalah tangga, didapat disaat saya benar-benar memaknakan sesuatu.

Begini, tangga merupakan titik penentu dari umur, maksudnya adalah tangga merupakan tolak ukur bagaimana tindakan kita di saat umur tertentu.

Kita dapat naik ke tangga selanjutnya tergantung dari seberapa banyak pengetahuan yang kita dapat dan sejauh apa tindakan yang dapat diambil bergantung keberadaan kita di tangga keberapa.

Pengetahuan bukan hanya mata pelajaran di sekolah dan mata kuliah di kampus tetapi pengetahuan adalah jagad raya ini. Tangga menjadi tolak ukur bagi diri sendiri, pemacu tindakan.

Umur bukan hanya sebuah angka atas legalitas tetapi umur merupakan suatu sistem pasti yang dilihat banyak orang, menjadi tolak ukur bagi oranglain. Umur merupakan tindakan.

Lebih baik keduanya seimbang agar memeluk masa lalu, menikmati masa kini, melihat masa depan.

Ujung-ujungnya, tangga dan angka. Imajiner dan pasti. Countless and countable.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar