Beberapa hari ini Ega kesal.
Hari Selasa Ega kelar UTS dan kembali ke Jakarta dengan harapan Dia nyampe rumah, masuk kamar, AC nyala udah dingin, buah ada dan Dia bisa tidur dengan nyenyak.
Saudaranya dari Medan datang dan ternyata pergi ke Bandung. Setelah ditanya kepada ibunya, mobilnya dipake oleh saudara-saudaranya. Dia mengalah.
Sesampainya di rumah, harapannya buyar saat Dia masuk kamar dan di dalam kamarnya ada banyak koper yang sudah pasti milik saudara-saudaranya. Dia mulai kesal.
Saat Dia tanya kepada ibunya ternyata memang benar itu milik saudaranya.
Saat itu Dia juga mengalah. Malam sesampainya Dia di Jakarta, Dia mengatakan kepada ibunya bahwa besok Dia harus memakai mobil karena harus pergi. Ibunya mengatakan tidak masalah.
Keesokan harinya, ternyata semuanya tidak semulus yang Dia perkirakan. Dia dan ibunya bertengkar.
Hanya hari Rabu Ega memakai mobil, Kamis dan Jumat Ega tidak membuat rencana apapun karena tidak ingin mengganggu kesibukan ayah dan ibunya.
Hari Jumat, kekesalan Ega memuncak karena saat Ega bertanya apakah hari Minggu Dia bisa membawa mobilnya untuk ke Bandung, lalu Ibunya menjawab tidak bisa karena masih ada urusan. Kekesalan Ega memuncak karena tidak ada pemberitahuan apapun.
Ega mencoba meredam emosinya dengan tidak langsung marah-marah. Ega menganggap bahwa semuanya dapat dibicarakan dengan baik-baik dan Ega masih ingin ketenangan.
Disaat emosi Ega sudah mereda, Ega mencoba membicarakan hal tersebut kepada ibunya tetapi ibunya menanggapi semuanya dengan marah. Ega sangat kesal dan memutuskan saat itu juga untuk ke Bandung.
Masalah sepele yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan tetapi Ega hanya ingin adanya komunikasi apalagi yang menyangkut dengan dirinya. Ega pulang ke rumah dengan harapan bahwa semuanya akan tenang. Ega sama sekali tidak mempersoalkan masalah mobil dan kamar yang dipakai tetapi masalahnya adalah tidak adanya komunikasi.
"Bem,gue kesel aja karena rasanya gue sama sekali tidak dianggap di dalam rumah itu. Kepentingan gue sama sekali tidak dihargai. Gue ga suka hanya dengan alasan keluarga, kepentingan gue tidak dipertimbangkan ataupun dikompromikan. Gue ke Jakarta cuman pengen tenang. Kalaupun ada perubahan-perubahan setidaknya gue tau memposisikan diri. Gue berasa kayak tamu di rumah gue sendiri. Rasanya gue lebih tenang di Bandung, walaupun sama sekali tidak terfasilitasi sebaik di rumah tapi gue ngerasa aman."
"Ga,setidaknyakan lo udah ngomong. Mungkin nyokap lo juga butuh mikirlah."
"Bem,gue inget kata-katanya Dia supaya gue bisa mengendalikan emosi gue. Gue coba ko, Bem. Gue ngomong baik-baik sama Dia. Gue bilang supaya lain kali kalo ada apa-apa ngomong apalagi kalo yang menyangkut gue."
"Ga,tapi itukan keluarga lo juga. Mungkin nyokap lo ngerasa semua hal itu ga penting juga untuk dibicarakan karena nyokap lo ngerasa lo akan mengerti."
"Bem,keluarga isinya juga orang. Mereka emang keluarga tapi gue anaknya. Keluarga yang dateng tetep pendatang. Gada yang ga penting kalo menyangkut kepentingan gue. Apa salahnya Dia bilang kalo mobil gue akan dipake sampe minggu depan karena ada keperluan-keperluan ini itu, apa salahnya Dia bilang kalo kamar gue akan dipake sama saudara-saudara gue karena mereka cukup banyak. Apa pertimbangan dan kepentingan gue ga penting?"
"Ga..."
"Udahlah Bem, lo taukan gimana keadaan rumah gue? Gue sama sekali ga pernah dikasitau. Gue ga pernah disuruh duduk dan dikasitau semua kondisi yang ada. Gue selalu disuruh ngerti dengan keadaan yang gue sendiri ga ngerti. Gue bukan anak SD lagi yang bisa terima-terima aja. Gue udah gede dan gue udah berhak untuk ngasih pertimbangan. Kalo mereka mau seenaknya, gausah sekolain gue tinggi-tinggi biar gue sama sekali gausah mikir."
"Ga,nyokap lo juga emosi mungkin."
"Halah, emang Dia pikir Dia doang yang emosi? Gue juga! Awalnya, mobil gue di Jakarta karena Dia bilang mobilnya Dia di-service. Kalo Dia ngomong, gue fine. Gue udah janji sama Bang Imas juga buat minjemin Dia mobil di Bandung dan gue udah bilang sama nyokap tapi tiba-tiba sodara gue dateng dan seenaknya Dia rubah semuanya."
"Pasti ada sisi dari nyokap lo yang lo gatau."
"Mungkin iya, makanya gue ajak Dia ngomong supaya gue tau dari sisi Dia gimana dan biar Dia tau dari sisi gue gimana. Gue ga pake marah, Bem. Cape gue di posisi yang harus ngerti tapi gue gatau apa-apa. Mau sampe kapan?"
"Lo di Bandung dululah kalo gitu. Jangan kesel-kesel lagi."
"Yaudah, gue kayak gini aja. Terserahlah di otaknya Dia gue anak kayak apa. Gue ga peduli. Dia juga gamau tau apa yang ada di otak gue. Makanlah tuh sodaranya Dia, makanlah tuh semua kepentingannya Dia. Gue berusaha gamau ganggu kepentingan Dia makanya selama gue di Jakarta gue anteng aja di rumah dan kalo mau pergi juga ngikut yang searah sama Dia. Ga pernah diliat sama Dia, Bem. Gue di Bandung ajalah biar ngga ngebebanin Dia."
"Yaa, tapi ngga gitulah, Ga."
"Udah deh Bem, kalaupun lo ngerasa gue salah, iya gue salah. Terserah, tapi gue gamau aja masalah barang aja diributin. Mendingan gue anteng di kosan."
"Ga...."
"Bem,anjing ya lo! Plis lah, gausah sok mau solusi dan jalan tengah. Gue kesel."
"Ga...."
"Bem,diem ajalah! Biarin gue pendem aja keselnya dan lo jangan nambain."
"Ga..."
"DIEM!!!!!!! PLISSSSS!!!!!"
Endingnya gue dimarain sama Ega juga padahal gue cuman pengen ngehibur supaya Dia bete-bete aja. Tapi ujung-ujungnya Ega ketawa-ketawa juga ko sama gue. Hehehhe.. Jangan bete-bete yaaa Egaaaaa.
Hari Selasa Ega kelar UTS dan kembali ke Jakarta dengan harapan Dia nyampe rumah, masuk kamar, AC nyala udah dingin, buah ada dan Dia bisa tidur dengan nyenyak.
Saudaranya dari Medan datang dan ternyata pergi ke Bandung. Setelah ditanya kepada ibunya, mobilnya dipake oleh saudara-saudaranya. Dia mengalah.
Sesampainya di rumah, harapannya buyar saat Dia masuk kamar dan di dalam kamarnya ada banyak koper yang sudah pasti milik saudara-saudaranya. Dia mulai kesal.
Saat Dia tanya kepada ibunya ternyata memang benar itu milik saudaranya.
Saat itu Dia juga mengalah. Malam sesampainya Dia di Jakarta, Dia mengatakan kepada ibunya bahwa besok Dia harus memakai mobil karena harus pergi. Ibunya mengatakan tidak masalah.
Keesokan harinya, ternyata semuanya tidak semulus yang Dia perkirakan. Dia dan ibunya bertengkar.
Hanya hari Rabu Ega memakai mobil, Kamis dan Jumat Ega tidak membuat rencana apapun karena tidak ingin mengganggu kesibukan ayah dan ibunya.
Hari Jumat, kekesalan Ega memuncak karena saat Ega bertanya apakah hari Minggu Dia bisa membawa mobilnya untuk ke Bandung, lalu Ibunya menjawab tidak bisa karena masih ada urusan. Kekesalan Ega memuncak karena tidak ada pemberitahuan apapun.
Ega mencoba meredam emosinya dengan tidak langsung marah-marah. Ega menganggap bahwa semuanya dapat dibicarakan dengan baik-baik dan Ega masih ingin ketenangan.
Disaat emosi Ega sudah mereda, Ega mencoba membicarakan hal tersebut kepada ibunya tetapi ibunya menanggapi semuanya dengan marah. Ega sangat kesal dan memutuskan saat itu juga untuk ke Bandung.
Masalah sepele yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan tetapi Ega hanya ingin adanya komunikasi apalagi yang menyangkut dengan dirinya. Ega pulang ke rumah dengan harapan bahwa semuanya akan tenang. Ega sama sekali tidak mempersoalkan masalah mobil dan kamar yang dipakai tetapi masalahnya adalah tidak adanya komunikasi.
"Bem,gue kesel aja karena rasanya gue sama sekali tidak dianggap di dalam rumah itu. Kepentingan gue sama sekali tidak dihargai. Gue ga suka hanya dengan alasan keluarga, kepentingan gue tidak dipertimbangkan ataupun dikompromikan. Gue ke Jakarta cuman pengen tenang. Kalaupun ada perubahan-perubahan setidaknya gue tau memposisikan diri. Gue berasa kayak tamu di rumah gue sendiri. Rasanya gue lebih tenang di Bandung, walaupun sama sekali tidak terfasilitasi sebaik di rumah tapi gue ngerasa aman."
"Ga,setidaknyakan lo udah ngomong. Mungkin nyokap lo juga butuh mikirlah."
"Bem,gue inget kata-katanya Dia supaya gue bisa mengendalikan emosi gue. Gue coba ko, Bem. Gue ngomong baik-baik sama Dia. Gue bilang supaya lain kali kalo ada apa-apa ngomong apalagi kalo yang menyangkut gue."
"Ga,tapi itukan keluarga lo juga. Mungkin nyokap lo ngerasa semua hal itu ga penting juga untuk dibicarakan karena nyokap lo ngerasa lo akan mengerti."
"Bem,keluarga isinya juga orang. Mereka emang keluarga tapi gue anaknya. Keluarga yang dateng tetep pendatang. Gada yang ga penting kalo menyangkut kepentingan gue. Apa salahnya Dia bilang kalo mobil gue akan dipake sampe minggu depan karena ada keperluan-keperluan ini itu, apa salahnya Dia bilang kalo kamar gue akan dipake sama saudara-saudara gue karena mereka cukup banyak. Apa pertimbangan dan kepentingan gue ga penting?"
"Ga..."
"Udahlah Bem, lo taukan gimana keadaan rumah gue? Gue sama sekali ga pernah dikasitau. Gue ga pernah disuruh duduk dan dikasitau semua kondisi yang ada. Gue selalu disuruh ngerti dengan keadaan yang gue sendiri ga ngerti. Gue bukan anak SD lagi yang bisa terima-terima aja. Gue udah gede dan gue udah berhak untuk ngasih pertimbangan. Kalo mereka mau seenaknya, gausah sekolain gue tinggi-tinggi biar gue sama sekali gausah mikir."
"Ga,nyokap lo juga emosi mungkin."
"Halah, emang Dia pikir Dia doang yang emosi? Gue juga! Awalnya, mobil gue di Jakarta karena Dia bilang mobilnya Dia di-service. Kalo Dia ngomong, gue fine. Gue udah janji sama Bang Imas juga buat minjemin Dia mobil di Bandung dan gue udah bilang sama nyokap tapi tiba-tiba sodara gue dateng dan seenaknya Dia rubah semuanya."
"Pasti ada sisi dari nyokap lo yang lo gatau."
"Mungkin iya, makanya gue ajak Dia ngomong supaya gue tau dari sisi Dia gimana dan biar Dia tau dari sisi gue gimana. Gue ga pake marah, Bem. Cape gue di posisi yang harus ngerti tapi gue gatau apa-apa. Mau sampe kapan?"
"Lo di Bandung dululah kalo gitu. Jangan kesel-kesel lagi."
"Yaudah, gue kayak gini aja. Terserahlah di otaknya Dia gue anak kayak apa. Gue ga peduli. Dia juga gamau tau apa yang ada di otak gue. Makanlah tuh sodaranya Dia, makanlah tuh semua kepentingannya Dia. Gue berusaha gamau ganggu kepentingan Dia makanya selama gue di Jakarta gue anteng aja di rumah dan kalo mau pergi juga ngikut yang searah sama Dia. Ga pernah diliat sama Dia, Bem. Gue di Bandung ajalah biar ngga ngebebanin Dia."
"Yaa, tapi ngga gitulah, Ga."
"Udah deh Bem, kalaupun lo ngerasa gue salah, iya gue salah. Terserah, tapi gue gamau aja masalah barang aja diributin. Mendingan gue anteng di kosan."
"Ga...."
"Bem,anjing ya lo! Plis lah, gausah sok mau solusi dan jalan tengah. Gue kesel."
"Ga...."
"Bem,diem ajalah! Biarin gue pendem aja keselnya dan lo jangan nambain."
"Ga..."
"DIEM!!!!!!! PLISSSSS!!!!!"
Endingnya gue dimarain sama Ega juga padahal gue cuman pengen ngehibur supaya Dia bete-bete aja. Tapi ujung-ujungnya Ega ketawa-ketawa juga ko sama gue. Hehehhe.. Jangan bete-bete yaaa Egaaaaa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar