gue ga bilang itu ga nyata tapi hampir mendekati ga nyata.
Well, i named it as a film's victim. what they thought about love but i have my own argument. This just my argument.
Setelah gue membuat diri gue jadi hobby dengan film cheesy indo yang pasti intinya adalah cinta, gue jadi melihat ada satu yang ga make sense aja.
Gimana kalo sebenarnya cinta itu memang gada tapi itu hanya sebuah masalah ketergantungan dan masalah publik??
Ketergantungan akan banyak hal. Tidak bisa dipungkiri, realita yang terlihat sekarang itu adalah orang berpasangan berdasarkan tipe dan mereka berdua setipe, setara.
Fisik merupakan poin pertama tapi bukan utama. Bagi yang melihat materi, ketergantungan dapat terjadi karena orang tersebut ada kuasa, uang, kehormatan dan biasanya masalah tampang akan menjadi salah satu tapi tetap bukan utama. Di sisi lain, ada orang yang hanya memerlukan teman ngobrol, teman berbagi susah dan senang, jalan-jalan atau apapun itulah. Inti dari keduanya itu adalah keamanan diri sendiri. Kalo masalah tampang, hanya orang bodoh aja yang bikin itu faktor utama. Sekarang yang menjadi faktor utama adalah pemenuhan kebutuhan. Semua itu typical.
Money, power, knowledge are the best thing people can get and everyone want it.
Disaat beban untuk mencari keamanan itu terus ada, SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) menjadi isu terbesar. Kalo dilihat dari realita yang ada seperti itu, maka yang orang katakan mengenai cinta itu banyak makna dalam arti filosofis tapi buat saya sendiri cinta itu typical.
Kenapa saya menyebut cinta itu typical? Karena basically, disaat kita mengatakan kita tidak melakukan apapun tanpa dia ataupun yang membuat rasanya pas ada dia, itu namanya kebiasaan dan ketergantungan. Kebiasaan dan ketergantungan itu timbul karena ada rasa aman yang dibawa oleh orang tersebut. Aman itu bisa dari berbagai aspek, mungkin keuangan, teman bicara, motivasi atau apapun.
Perasaan dan hati bukan berada di satu tempat. Hati mempunyai fungsi yaitu memfilter darah memproduksi empedu yang dapat menawar racun dan terletak di bawah diafragma di sebelah kanan manusia tapi perasaan itu ada di otak dengan fungsinya sebagai sensorik yang terletak di kepala. Perasaan yang ada juga tidak jauh dari pernyataan bahwa manusia adalah mahluk sosial yang mempunyai kepentingan. Cinta itu typical karena adanya kepentingan.
Coba dipikirkan antara cinta, ketergantungan, kepentingan, mahluk sosial, SARA, materi dan ketidak sempurnaan yang membuat adanya perselingkuhan. Semuanya nyambung dan make sense.
Cinta itu dibuat hanya hanya untuk melabelkan sesuatu yang typical agar lebih terlihat wah. Cintu itu buta, bla blablablabla itu hanya agar membuat label cinta yang berdasarkan hal diatas itu agak eksklusif, biar ketergantungan dan kepentingan bersadarkan diatas itu dianggap sah-sah aja.
Banyak orang bilang bahwa dengan menikah kita tidak sendiri. Hal itu sangat benar. Menikah hanya membuat yang aman menjadi terpaten aman dan ada hukum yang berlaku agar lebih aman. Manusia itu ga pernah puas pasti akan mencari lebih dan menikah merupakan hak paten bahwa orang itu ga boleh kemana-kemana. Menikah adalah langkah egois yang mengikat dan anak adalah korban keegoisan itu.
Coba dipikirkan mengenai cinta, ketergantungan, kebiasaan, menikah, mengikat, egois dan anak. Oiya, faktor umur jadi isu yang besar banget sekarang.
Cinta itu typical, ada kepentingan jadi ketergantungan karena merasa aman, belum puas dengan rasa aman itu, lalu ke tahap menikah agar lebih aman lagi, punya anak agar bisa semakin mengikat.
Terserah mau bilang gue skeptis tapi gue realistis. Kalaupun nanti gue menikah dan punya anak, itu semua karena mungkin realita itu juga bekerja di sistem hidup gue, kurang lebih seperti itu yang gue percaya. Kalo gue dapet cinta berarti gue sudah cukup merasa aman dalam segala hal. Gue hanya ngga mau bikin itu semua jadi disucikan karena cinta itu sendiri berubah-rubah, ngikutin zaman. Mungkin nanti kita semua bisa memberikan sedikit kelonggaran bagi generasi-generasi mendatang agar dapat memilih berdasarkan kepentingannya, tidak usah sangkut-pautin dengan SARA atau apapun karena untuk cari orang bisa memenuhi kebutuhan diri sendiri dan membuat aman aja udah susah, gimana kalo masih harus ada embel-embel yang lain. Lagian, kalo diri sendiri bisa memenuhi kebutuhannya ngapain harus terikat, kebutuhan biologis juga bisa didapatkan tanpa ada keterikatan. Rasanya yang baru gue sampaikan make sense dan realistis. Itu pemahaman gue.
Well, i named it as a film's victim. what they thought about love but i have my own argument. This just my argument.
Setelah gue membuat diri gue jadi hobby dengan film cheesy indo yang pasti intinya adalah cinta, gue jadi melihat ada satu yang ga make sense aja.
Gimana kalo sebenarnya cinta itu memang gada tapi itu hanya sebuah masalah ketergantungan dan masalah publik??
Ketergantungan akan banyak hal. Tidak bisa dipungkiri, realita yang terlihat sekarang itu adalah orang berpasangan berdasarkan tipe dan mereka berdua setipe, setara.
Fisik merupakan poin pertama tapi bukan utama. Bagi yang melihat materi, ketergantungan dapat terjadi karena orang tersebut ada kuasa, uang, kehormatan dan biasanya masalah tampang akan menjadi salah satu tapi tetap bukan utama. Di sisi lain, ada orang yang hanya memerlukan teman ngobrol, teman berbagi susah dan senang, jalan-jalan atau apapun itulah. Inti dari keduanya itu adalah keamanan diri sendiri. Kalo masalah tampang, hanya orang bodoh aja yang bikin itu faktor utama. Sekarang yang menjadi faktor utama adalah pemenuhan kebutuhan. Semua itu typical.
Money, power, knowledge are the best thing people can get and everyone want it.
Disaat beban untuk mencari keamanan itu terus ada, SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) menjadi isu terbesar. Kalo dilihat dari realita yang ada seperti itu, maka yang orang katakan mengenai cinta itu banyak makna dalam arti filosofis tapi buat saya sendiri cinta itu typical.
Kenapa saya menyebut cinta itu typical? Karena basically, disaat kita mengatakan kita tidak melakukan apapun tanpa dia ataupun yang membuat rasanya pas ada dia, itu namanya kebiasaan dan ketergantungan. Kebiasaan dan ketergantungan itu timbul karena ada rasa aman yang dibawa oleh orang tersebut. Aman itu bisa dari berbagai aspek, mungkin keuangan, teman bicara, motivasi atau apapun.
Perasaan dan hati bukan berada di satu tempat. Hati mempunyai fungsi yaitu memfilter darah memproduksi empedu yang dapat menawar racun dan terletak di bawah diafragma di sebelah kanan manusia tapi perasaan itu ada di otak dengan fungsinya sebagai sensorik yang terletak di kepala. Perasaan yang ada juga tidak jauh dari pernyataan bahwa manusia adalah mahluk sosial yang mempunyai kepentingan. Cinta itu typical karena adanya kepentingan.
Coba dipikirkan antara cinta, ketergantungan, kepentingan, mahluk sosial, SARA, materi dan ketidak sempurnaan yang membuat adanya perselingkuhan. Semuanya nyambung dan make sense.
Cinta itu dibuat hanya hanya untuk melabelkan sesuatu yang typical agar lebih terlihat wah. Cintu itu buta, bla blablablabla itu hanya agar membuat label cinta yang berdasarkan hal diatas itu agak eksklusif, biar ketergantungan dan kepentingan bersadarkan diatas itu dianggap sah-sah aja.
Banyak orang bilang bahwa dengan menikah kita tidak sendiri. Hal itu sangat benar. Menikah hanya membuat yang aman menjadi terpaten aman dan ada hukum yang berlaku agar lebih aman. Manusia itu ga pernah puas pasti akan mencari lebih dan menikah merupakan hak paten bahwa orang itu ga boleh kemana-kemana. Menikah adalah langkah egois yang mengikat dan anak adalah korban keegoisan itu.
Coba dipikirkan mengenai cinta, ketergantungan, kebiasaan, menikah, mengikat, egois dan anak. Oiya, faktor umur jadi isu yang besar banget sekarang.
Cinta itu typical, ada kepentingan jadi ketergantungan karena merasa aman, belum puas dengan rasa aman itu, lalu ke tahap menikah agar lebih aman lagi, punya anak agar bisa semakin mengikat.
Terserah mau bilang gue skeptis tapi gue realistis. Kalaupun nanti gue menikah dan punya anak, itu semua karena mungkin realita itu juga bekerja di sistem hidup gue, kurang lebih seperti itu yang gue percaya. Kalo gue dapet cinta berarti gue sudah cukup merasa aman dalam segala hal. Gue hanya ngga mau bikin itu semua jadi disucikan karena cinta itu sendiri berubah-rubah, ngikutin zaman. Mungkin nanti kita semua bisa memberikan sedikit kelonggaran bagi generasi-generasi mendatang agar dapat memilih berdasarkan kepentingannya, tidak usah sangkut-pautin dengan SARA atau apapun karena untuk cari orang bisa memenuhi kebutuhan diri sendiri dan membuat aman aja udah susah, gimana kalo masih harus ada embel-embel yang lain. Lagian, kalo diri sendiri bisa memenuhi kebutuhannya ngapain harus terikat, kebutuhan biologis juga bisa didapatkan tanpa ada keterikatan. Rasanya yang baru gue sampaikan make sense dan realistis. Itu pemahaman gue.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar