sebuah bangun ruang

Hanya sebuah pandangan hidup dengan segala keterbatasan tangga yang dilalui

e-think

ABCD"E"FGHIJK....

Rabu, 29 Juni 2011

Adam&Hawa

"Adam dan Hawa itu menikah atau tidak?"

Jadi begini,
Secara simpel, Adam dan Hawa menikah tapi bukan di taman eden tetapi saat mereka sudah di bumi.

Konsep dasarnya adalah Adam merupakan manusia pertama di bumi. Hawa merupakan manusia kedua. Tuhan dan Iblis adalah kembar tapi sifat berbeda. Tuhan maha-positif (yang bagus-bagus), Iblis maha-negatif (yang jelek-jelek) dan dua-duanya maha-sakti.

Suatu hari, Hawa sedang berkeliling di taman eden lalu dia melihat ada seorang lelaki yang sangat amat ganteng dan memanggil Hawa. Lelaki itu merayu Hawa dan singkat cerita, Hawa termakan oleh rayuannya dan mereka melakukan hubungan seksual. Tanpa disadari oleh Hawa bahwa dia telah bersetubuh dengan Iblis yang menyamar sebagai seorang lelaki yang sangat ganteng.

Lalu, Tuhan mengetahui hal itu dan murka. Adam dan Hawa yang sedang hamil akhirnya dikeluarkan oleh Tuhan dari taman eden. Ternyata, Adam dikeluarkan dari taman eden karena juga mengikuti nafsu birahinya saat Iblis menjelma sebagai seorang wanita yang sangat cantik.

Adam dan Hawa hidup di bumi dan akhirnya Tuhan membuat sebuah lembaga pernikahan agar nyawa-nyawa yang ada di dalam perut wanita mengetahui dengan jelas siapa ayah dan ibunya, siapa yang akan membesarkannya.

Siapa yang menjadi penghulunya? Penghulunya adalah utusan Tuhan. Padahal, lembaga pernikahan itu merupakan lembaga tertinggi tetapi dari awal Tuhan tidak menjadi penguhulunya. Hal tersebut terjadi kemurkaan Tuhan terhadap Adam dan Hawa sehingga diutuslah oranglain, hal itu juga sama terjadi di dunia sampai saat ini.

Kenapa Adam dan Hawa dikeluarkan dari taman eden? Karena Tuhan kalah taroan sama Iblis. Taroannya kalo Adam dan Hawa tergoda maka mereka dikeluarkan dari taman eden. Kekalahan tersebut membuat Tuhan murka dan membuat Adam dan Hawa dikutuk sampai keturunan-keturunannya juga merasakan. Adam dan semua lelaki harus bekerja untuk menafkahi korban sperma yang dikeluarkan atas nafsu mereka dan menghidupi hasil sperma dan ovum yang sudah berwujud. Hawa dan semua wanita harus merasakan sakit yang sangat disaat mewujudkan imajinasi menjadi sebuah wujud nyata.

Kenapa justru sebuah pohon yang disalahkan dan menjadi korban? Justru bukan hanya pohon yang dikorbankan tetapi binatang-binatang juga. Pohon itu disalahkan karena disanalah Iblis berhasil menguasai Adam dan Hawa. Binatang-binatang yang tadinya bisa berbicara dikutuk untuk tidak bisa berbicara agar aib yang ada di dalam taman eden tidak terbongkar.

Anak pertama dari Adam dan Hawa membunuh adiknya karena rasa iri. Hal tersebut terlihat bahwa anak tersebut merupakan hasil dari Hawa dan Iblis. Jadi, wajar apabila manusia berbuat dosa karena kita ini merupakan keturunan Hawa dan Iblis.

Jadi, singkat cerita, setelah itu terjadilah fenomena-fenomena dan drama yang tervisualisasi. Tuhan akhirnya di salib untuk menebus dosa manusia dan merasa bersalah membuat manusia sebagai ajang taroan dan dikeluarkan dari taman eden. Tuhan merasa ini semua kesalahan dia karena taroan sama Iblis.



HAHAHAHA Hal diatas merupakan becandaan antara Bembi dan Ega karena diberikan pertanyaan seperti di atas.

Cerita Adam dan Hawa ini hanya fiktif belaka berdasarkan imajinasi liar tanpa adanya riset. Jadi, pure imagination. Paralogis yang berbahaya sih.

NB : Yakinilah yang anda yakinin.



Selasa, 28 Juni 2011

stereotype

Tiba-tiba kepikiran bahwa pikiran kita sudah terbangun dengan sebuah stereotype.

Pertanyaan, lo pengen cowo kayak gimana?
Jawabannya secara umum sangatlah sama.

Pertanyaan, lo pengen cewe kayak gimana?
Jawabannya secara umum sangatlah sama.

Akhirnya semua orang-orang berlomba untuk mengikuti stereotype tresebut.
Sangat disayangkan, stereotype itu juga bukan yang bersifat abadi karena berubah-ubah terus.
Hal tersebut, didasari dengan sifat manusia yang bosenan dan ga pernah puas.

Kasian aja melihat fenomena yang ada sekarang bahwa hidup itu adalah persaingan menuju stereotype yang terus berubah. Pengkontaminasian tersebut diciptakan melalui media-media yang ada dan terbawalah manusia ke arah sana. Sayangnya, si Ega akan masuk ke dalam dunia media dan menjadi salah satu orang yang berkontribusi dalam pemberian pengaruh kepada masyarakat.

Padahal, dalam ilmu pasti sendiri, ukuran good looking sehingga menjadi enak dipandang sampai tidak sudah ada skalanya. Nama skalanya saya lupa.

Pertanyaan teman saya,"Kenapa daun yang berguguran itu diliatnya bagus?"
Jawab yang saya berikan,"Secara filosofis, kita sebagai manusia sudah sangat terbiasa dengan sistem sehingga disaat kita melihat sistem dari mahluk hidup lain dan secara konsisten dijalankan, kita akan melihat keindahannya."

Lalu bagaimana dengan seni? Saya pribadi tidak mengerti dengan apa yang disebut dengan seni. Interpretasi seni itu berbeda-beda. Entah mengapa, buat saya, seni itu adalah sistem sehingga terlalu untuk dijabarkan. Sistem ada dimana-mana di segala aspek kehidupan begitu juga dengan seni. Pemahaman saya mengenai seni hanya sampai disana.

Jadi stereotype itu adalah bagian dari sistem tetapi bukan berada langsung di bawah sistem tetapi masuk ke dalam sub-sub yang ada di bawah sistem.

days after days

end up dengan pertanyaan, what's next?
end up dengan jawaban, tailah kenapa pertanyaannya itu terus?

Hidup ini sistem, manusia ada di dalam sistem dan menjadi aktor utama dalam menjalankan sebuah sistem.
Menurut postmodernisme, kebenaran itu bukan hanya 1 karena setiap individu bebas dalam memaknakan apapun untuk dirinya tetapi tidak sampai ke sebuah tindakan. Aktor-aktor utama tersebut membuat sebuah negara sehingga menurut realisme, aktor utama adalah negara. Postpositivisme mengatakan bahwa objek itu adalah suatu yang dipahami dan pemaham itu adalah subjek. Objek itu sudah ada tetapi apakah subjek itu mampu memahaminya atau tidak. Tetapi akhirnya, konstruktivisme mengatakan kami bukan either/or tapi both/and yang mengutamakan materi dan ide utuh.

Nah,hal tersebut memang benar adanya disaat realisme, postmodernisme, neo-postpositivisme, rasionalisme dan  konstruktivisme saling menentang tetapi mempunyai satu benang merah yang besar yang akhirnya membawa kita kepada sebuah pemahaman baru mengenai pemikiran manusia sendiri.

Pertanyaan yang paling tepat adalah disaat benang merah tersambung, tidak ada fanatisme terhadap suatu konsep, pemikiran baru macam apa yang akan muncul?

Hal yang tergambar di pikiran saya adalah disaat para subjek memahami betul mengenai objek yang ada, apa yang akan terjadi? Apakah dengan pemahaman itu sistem menjadi teralienisasi karena sistem bukanlah suatu given yang digambarkan tetapi sesuatu yang dibentuk? Apabila hal itu terjadi, sistem yang tadinya besar dan mencangkup semua orang, akhirnya, mengecil dan di dalamnya hanya ada satu individu. Sistem yang awalnya 1 menjadi banyak sesuai dengan individu yang ada tetapi hal yang menyelaraskan semua sistem itu adalah tujuan. 

Pertanyaan selanjutnya, kapan hal itu akan terjadi? Tatanan macam apa yang akan terbentuk? Apa yang akan terjadi dengan manusia?

Manusia yang selalu menjadi aktor utama juga bergantung kepada mahluk hidup lainnya, seperti hewan dan tumbuhan. Apa mahluk hidup tersebut juga bisa dijadikan aktor utama? Mungkin yang jadi jawabannya, hewan dan tumbuhan tidak memiliki akal budi sehingga mereka hanya bergantung kepada sistem dan siklus yang sudah ada. Apakah dengan ini, kehidupan manusia nantinya yang sudah memiliki sistem manusia membuat mahluk hidup lainnya punah?

Senin, 27 Juni 2011

50 hari

"Ga, 50 hari lagi."
"Kenapa diitung, Bem?"
"Kadonya kira-kira apa ya, Ga?"
"Biru Hijau."
"Kenapa itu?"
"Biar lo ga kemana-mana lagi, Bem."
"Penjarain gue ya, Ga?"
"Iya. Setelah Biru Hijau akan banyak yang lain lagi supaya lo ga bisa kemana-mana."

Makna 50 hari lagi buat dia bukan sebuah kado ataupun harapan-harapan umum seperti yang diucapkan orang pada umumnya. Makna 50 hari lagi buat adalah sebuah tindakan untuk memenjarakan saya.

"Untung buat lo apa, Ga?"
"Sebuah kata yang melebihi senyum."
"Senyum dari sebuah pemenjaraan?"
"Iya."
"Setiap hari gue bisa senyum tanpa dipenjara."
"Lo bukan hanya senyum saat gue penjara."
"Seumur hidup?"
"Seumur hidup."
"Janji?"

Makna 50 hari lagi buat dia pemenjaraan tanpa pengesahan janji. Dia hanya meminta kata-kata.

"Bem, kenapa harus janji? Seolah lo tidak menikmati."
"Ga, kenapa gue harus dipenjara? Seolah lo tidak menikmati."

Saya tau dia takut menghadapi 50 hari lagi. Saya tau dia melebihi siapapun.

"50 hari lagi, Ga."
"Iya, Bem."
"Sudah siap, Ga?"
"Tidak siap."

Saya mengenal dia.

"Lo di tangga keberapa, Ga?"
"Itu yang paling gue takut."
"Sesuai ga?"
"Logikanya mengatakan iya."
"Logika berdasarkan sesuatu yang imajiner?"

Saya mengerti dia.

"Bem,logika berdasarkan sesuatu yang imajiner seperti blur."
"Jawabannya tidak pasti."

Saya menerima dia.

"Bem,gue ngerti, satu-satunya jawaban yang pasti adalah diri gue."

Saya memeluk dia, dia memeluk saya.

"Bem, satu hal yang paling nyata di hidup gue adalah jumlah rokok gue sekarang tinggal 1 batang."

Tangga dan Angka

Sebentar lagi akan secara resmi untuk masuk ke klub malam, membeli minuman keras, menonton film kategori dewasa, 50 hari lagi dianggap dewasa. Secara resmi rasanya semua hal yang tadinya tabu menjadi tidak tabu, tadinya tidak pantas menjadi pantas, tadinya ilegal menjadi legal.

Tangga. Sebuah langkah imajiner yang menentukan tingkat kedewasaan, tempat dimana kaki berpijak. Hanya sebuah analogi.

Sebuah teori yang entah darimana datangnya saat teringat mengenai 50 hari. Tangga dan umur seharusnya berbanding lurus sama seperti pengetahuan dan tingkat kelas. Seharusnya begitu.

50 hari lagi = 21 tahun, seharusnya saya berada di tangga ke berapa? 21 kah?

Setiap tangga menghabiskan 1 tahun untuk dapat naik ke tangga selanjutnya. Setiap tangga memberikan 365 hari untuk belajar tapi bagaimana kalo kita tidak pernah belajar? Bagaimana kalo kita terlalu banyak belajar? Idealnya pastilah harus pas.

Menurut saya tidak begitu.

Tangga dan umur adalah 2 hal yang berbeda. Perbedaannya antara realita dan maya tetapi saling mempengaruhi.

Tangga merupakan pengetahun yang bersifat maya, tak tampak tetapi mempengaruhi realita. Tangga menentukan bagaimana kita menghadapi realita itu sendiri. Bagaimana disaat kita memaknakan apa yang kita terima, bagaimana kita membentuk sistem kerja otak yang mengatur semua yang keluar berdasarkan apa yang kita terima. Tangga itu tidak terencana, dapat datang dan pergi, dapat diingat dan terlupa.

Umur hanya sebuah angka berdasarkan apa yang akan kita hadapi. Umur itu terencana dan pasti kecuali takdir yang menentukan kapan saatnya mati. Umur itu tersusun, sudah jelas, ada konsekuensi apabila tidak mengikuti sistem dari umur itu. Umur yang menentukan bagaimana mengeluarkan pengetahuan berdasarkan tangga-tangga tersebut.

Hmm.. ngerti ga?

contoh kasus, saya berumur 21 tahun kurang 50 hari. Pada saat ini seharusnya sudah skripsi dan menjadi angkatan 2008 tetapi karena saya tidak mengikuti sistem yang ada sehingga menjadi angkatan 2009 dan harus menungu tahun depan untuk skripsi. Hal yang baru saya sebutkan adalah sebuah yang pasti yaitu mengenai umur dan yang seharusnya saya hadapi berdasarkan umur saya. Menurut tangga, saya sudah memikirkan bagaimana membuat diri saya bertahan tanpa bergantung dengan oranglain, bagaimana saya harus menghadapi hidup dan bagaimana langkah-langkah saya selanjutnya. Saya melihat orang disekitar saya, saya memilih orang-orang yang saya datangi dan ajak bicara, saya memilih buku-buku yang saya baca, saya tidak terlalu peduli dengan yang orang-orang bicarakan, saya tidak terlalu peduli dengan tanggapan oranglain, saya tidak terlalu peduli dengan quote-quote orang terkenal karena saya sudah membentuk tindakan yang akan saya keluarkan. Hal yang baru saya bicarakan adalah tangga, didapat disaat saya benar-benar memaknakan sesuatu.

Begini, tangga merupakan titik penentu dari umur, maksudnya adalah tangga merupakan tolak ukur bagaimana tindakan kita di saat umur tertentu.

Kita dapat naik ke tangga selanjutnya tergantung dari seberapa banyak pengetahuan yang kita dapat dan sejauh apa tindakan yang dapat diambil bergantung keberadaan kita di tangga keberapa.

Pengetahuan bukan hanya mata pelajaran di sekolah dan mata kuliah di kampus tetapi pengetahuan adalah jagad raya ini. Tangga menjadi tolak ukur bagi diri sendiri, pemacu tindakan.

Umur bukan hanya sebuah angka atas legalitas tetapi umur merupakan suatu sistem pasti yang dilihat banyak orang, menjadi tolak ukur bagi oranglain. Umur merupakan tindakan.

Lebih baik keduanya seimbang agar memeluk masa lalu, menikmati masa kini, melihat masa depan.

Ujung-ujungnya, tangga dan angka. Imajiner dan pasti. Countless and countable.

Kamis, 23 Juni 2011

Sekitaran

Sudah 2 tahun rasanya aku berada di sekitaran tempat ini. Kuakui memang banyak yang aku lihat, mungkin terlalu banyak.

Sekitaran menjelaskan lingkungan yang ada di sekitarku. Aku bagian dari sekitaran itu, sempat berada disana.

Aku tidak mencoba memisahkan diri dari sekitaran itu tetapi mungkin terlalu banyak yang aku lihat sampai aku sempat tidak tau dimana diriku dengan semua sekitaran yang ada.

Aku tidak menghakimi apapun tapi untungnya orang-orang paling terdekatku mengingatkanku untuk kembali ke langkah awal. Aku menertawakan diriku karena kebodohan yang membuatku tak sempat menyadari kapasitas diriku, disaat aku terlalu sombong dengan semua teori yang ada tanpa implementasi. Aku tertawa disaat aku terjatuh dan pelarian bodoh yang aku ambil mendatangkan malapetaka. Aku terlalu cepat menyimpulkan dengan semua tawa yang ada. Aku terlalu terlena dengan ilusi yang aku buat. Ya, aku terlalu jauh.

Aku kembali ke titik 0 dimana aku mengambil sisa-sisa yang dulu menjadi kehidupanku dan memilih mana yang akan aku bawa dari sekitaran sekarang. Aku menjalani keduanya tetapi lebih berat kepada kehidupanku yang lama.

Semua orang akan kembali ke titik 0 dan aku juga begitu.

Sekitaranku adalah tontonanku dan hal yang pasti sekarang adalah diriku dimana aku memilih waktu untuk menonton dan memilih tontonan mana yang akan aku masuki. Aku yang menentukan sekitaranku bukan sekitaranku yang menentukanku.

Kujamin, bukan hanya teori.

undefined


Aku memberikan Hawa kepada Adam.
Aku memberikan bintang kepada langit.
Aku memberikan bulan kepada bumi.
Aku memberikan damai di hati.
Aku memberikan kehidupan.
Aku memberikan kematian.
Aku memberikan semuanya.
Aku yang mengambil semuanya.

Aku terlihat lembut di satu sisi.
Aku terlihat kasar di satu sisi.
Aku terlihat damai di satu sisi.
Aku terlihat marah di satu sisi.
Aku terlihat kuat di satu sisi.
Aku terlihat lemah di satu sisi.

Aku dapat terlihat di semua sisi.
Aku terlihat dengan semua sudut pandang yang ada.
Aku berada di semua karakter yang ada di jagad raya ini.

Semua orang mengangung-agungkan Aku.
Semua orang menghina-hina Aku.
Semua orang mencoba mencari Aku.
Semua orang tak lagi mencari Aku.
Semua orang percaya kepada Aku.
Semua orang tidak percaya kepada Aku.
Semua orang mencintai Aku.
Semua orang membenci Aku.
Semuanya tertuju kepada Aku.

Aku mulai berpikir, siapa aku?
Aku mulai bertanya, aku tau.

Aku simbol-simbol yang mereka katakan.
Aku bukan simbol-simbol yang mereka katakan.
Aku berada di semua institusi.
Aku tidak berada di semua institusi.
Aku ada.
Aku tidak ada.

Sayangnya, Aku adalah subjek dari objek-objek yang ada.
Sayangnya, Aku adalah objek dari subjek-subjek yang ada.
Sayangnya, Aku adalah Aku.

Untunya, Aku tetap tak terdefinisi.

Rabu, 22 Juni 2011

Kertas


Selembar kertas seolah memiliki sayap, tertiup angin, terbang bebas di udara tak menemukan tempat perhentian yang pas. 

Angin meniupnya, penasaran dengan tulisan yang tertulis di kertas tersebut.

"Sekian lama aku telah berkelana." 

Sang angin tak mengerti makna dari tulisan itu tetapi angin mengerti kesenduan dan kesepian dari makna kalimat tersebut.

Angin tak dapat berbicara, begitu juga kertas.

Angin menjalankan pekerjaannya, seolah memberikan sayap yang tak tampak.

Kertas berhenti di sebuah ruangan berwarna hitam, seolah angin memberikannya waktu untuk beristirahat. Tetapi tak lama, kertas mengikuti angin untuk kembali terbang.

Pemberhentian selanjutnya di sebuah ruangan berwarna ungu, angin memberikannya ketenangan untuk diam, tetapi kertas tetap mencari angin untuk terbang.

Pemberhentian selanjutnya di sebuah ruangan berwarna merah, angin memberikannya tempat yang terbaik, tetapi kertas tetap dengan kesepiannya dan mencari angin untuk terbang kembali.

Kertas terus terbang walaupun angin memberikannya waktu untuk beristirahat di ruangan berwarna kuning, merah muda, hijau dan biru. Kertas tak dapat bertahan.

Angin menyerah dan membiarkan kertas untuk terus terbang, tanpa memaksanya untuk berhenti dan beristirahat.

Kertas dan angin hanya terbang membisu.

Angin terus menjalankan pekerjaannya, dan tanpa disadarinya, kertas telah berbelok dan berhenti dengan sendirinya di sebuah dinding berwarna putih.

Angin melihat sekilas, kesepian kertas telah hilang.

"Sekian lama aku berkelana. Akhirnya, aku menemukan tempat aku berlabuh."

Rabu, 15 Juni 2011

rumah kecil

Pada saat ini, saya tinggal di sebuah rumah kecil yang entah kapan mulai saya bangun.

Dulu, saya tinggal di rumah yang besar dengan beberapa orang dan entah sejak kapan saya pindah ke rumah saya sendiri. Saya membawa banyak souvenir dari rumah saya dengan orang-orang itu. Sebagian isi dari rumah saya berisi souvenir-souvenir itu dan setengahnya lagi sedang saya isi.

Saya akan menceritakan tentang rumah saya.

Rumah kecil saya dulu tidak mempunyai taman tetapi banyak jendela sehingga membuat saya terlalu banyak melihat keluar. Dulu, di sekeliling rumah saya banyak sekali orang yang setiap hari tertawa, bersenang-senang dan melakukan hal yang saya tau tidak sesuai dengan diri saya. Dulu, tanpa mengetuk orang-orang itu dapat masuk ke rumah saya dengan mudahnya dan dengan mudahnya juga saya keluar dari rumah saya dan bergabung dengan mereka. Rumah saya dan rumah mereka tidak memakai tembok yang menjadi batasan sehingga membuat saya dengan mudahnya juga untuk bergabung dengan mereka. Dulu, hampir seluruh hari saya bersama mereka dan saya tidak pernah membersihkan rumah saya bahkan duduk di rumah sayapun hampir tidak pernah, membuat saya sempat hilang dan rumah itu seperti tidak bertuan. Mungkin kalau dulu saya ditanya isi rumah saya, saya akan menjawab, saya tidak tau. Hal yang paling bodoh yang pernah saya pikirkan adalah saya membenci rumah saya dan ingin pindah rumah.

Banyak hal yang terjadi di luaran sana, di luar rumah saya. Saya akui, terjadi keributan di luar rumah saya tetapi anehnya disaat saya ketakutan dan ingin pulang, saya merasa saya berada jauh sekali dari rumah dan saya sempat tersesat di jalan pulang. Aneh, saat rasanya saya sudah yakin bahwa saya sudah berada di depan rumah, saya melihat ke kanan kiri, saya menjadi tidak yakin karena rumah saya sama saja dengan rumah yang lainnya tidak ada bedanya. Saya terdiam tetapi masih ada keyakinan bahwa rumah yang ada di depan saya adalah rumah saya.

Saya masuk ke dalam dan benar itu rumah saya. Saya berkeliling dan melihat kembali isi dari rumah saya. Memori-memori lama itu berdatangan, menghujani pikiran saya sangat deras.

Perjalanan diluar rumah tersebut, membuat saya merenovasi sedikit rumah saya. Rumah kecil saya sekarang ada taman kecil yang membuat saya dapat membedakan rumah saya dengan yang rumah yang lainnya. Rumah saya ada tembok pendek yang menjadi pembatas dengan rumah lainnya, lalu jendela yang tadi begitu banyak, sebagian saya tutup dan saya memilih jendela mana yang saya lihat hari demi hari. Semua orang-orang itu masih berada di luar tapi tidak setiap hari saya melihat ke jendela yang mengarah ke tempat mereka berada. Tidak semua orang dapat masuk ke dalam rumah saya, hanya orang-orang yang saya pilih yang akan dibukakan pintu.

Saya berkeliling di dalam rumah, melihat souvenir yang saya dapat dari perjalanan diluar rumah. Jendela demi jendela saya kunjungi, saya mengisi rumah saya dengan hal-hal yang saya perlukan dan senangi.

Rumah saya kecil tapi akan terus diperbesar.


Selasa, 14 Juni 2011

kacamata tua

saya punya blogspot sebelumnya tetapi sepertinya email saya untuk blogspot sudah di non-aktif-kan. Blog saya sebelumnya masih ada, saya membaca ulang dan saya menyadari bahwa blog itu adalah langkah saya menuju blog ini. Menurut saya, langkah pendewasaan saya sampai saya berada di titik ini.

saya mempunyai blog di website lain tetapi menurut saya kurang adanya privasi. mungkin pertanyaannya, kenapa saya membuat blog secara online apabila itu untuk konsumsi pribadi? kenapa saya tidak menulis di buku diari saya atau di notepad komputer saya tanpa mem-publish itu?

mungkin, jawabannya saya senang berasumsi. saya mem-publish ini agar saya berasumsi bahwa blog ini dibaca orang tanpa sepengetahuan saya. mungkin, jawabannya saya merasa pikiran dan khayalan saya tidak terakomodir dengan baik sehingga saya dapat berasumsi ada orang yang membaca ini dan dapat mengerti. Mungkin jawabannya, saya hanya ingin mengingat perjalanan saya, langkah yang saya ambil tanpa memperdulikan siapa yang akan membaca ini. mungkin jawabannya, saya hanya ingin tetap berada di dunia saya sendiri tanpa ada orang yang benar-benar masuk ke dalamnya tetapi orang-orang tau bahwa dunia saya itu ada. mungkin saja, jawabannya tidak ada tetapi saya percaya itu ada.

saya hanya seseorang yang memakai kacamata tua berwarna coklat.