sebuah bangun ruang

Hanya sebuah pandangan hidup dengan segala keterbatasan tangga yang dilalui

e-think

ABCD"E"FGHIJK....

Minggu, 19 Agustus 2012

E

Tertuang belum tentu bisa tertuang.

Biarlah tetap dalam wadahnya, memberikan arti yang berbeda setiap harinya.
Biarlah tetap waktu yang berjalan, memberikan rasa yang berbeda setiap detiknya.
Biarlah tetap langkah yang diam, memberikan penglihatan yang cukup.
Biarlah nafas yang keluar, memberikan pemahaman yang lebih.

Biarlah kata itu tetap dalam kata-kata tanpa aksi. 
Biarlah rasa itu tetap dalam rasa tanpa aksi.
Biarlah waktu itu tetap dalam waktu tanpa aksi.
Biarlah bisu tetap menjadi bisu. 

Jejak yang ada pada nantinya tidak akan berbekas seperti yang lainnya meninggalkan bekas.
Bagaimana dunia ini memperlakukanku begitu fana tetapi dengan yang lainnya bisa memberikan keabadian. 
Kutatap jemari kecil itu, menciumnya dan hanya bisa memberikan kebebasan tanpa menoleh ke belakang.
Tapi rasanya aku sudah tidak bisa merasakan. 

Rabu, 15 Agustus 2012

Berdiri Di Persinggahan Dua Puluh Satu

Berjalan mundur bukanlah sebuah pilihan.
Berjalan maju adalah target.
Melihat ke depan adalah tujuan.
Melihat ke belakang adalah pelajaran bukan penyesalan. 

Saya berada di atas sebuah gedung dengan beberapa orang bersama saya. Tempat yang paling menyenangkan sekaligus menakutkan, tempat yang akan selalu saya inginkan. Terdapat beberapa orang di bawah sana melihat sinis ke arah saya dan tanpa ragu saya berteriak memaki ke arah mereka dan menerbangkan ratusan juta ke arah mereka, rasanya seperti hujan uang. Beberapa orang mengatakan saya tidak butuh uang, beberapa orang mengatakan uangmu itu haram, beberapa orang mengatakan saya senang mendapatkan uangmu dan beberapa orang tidak memperdulikannya. Hal yang paling menyedihkan ternyata secara merata uang itu terbagi, semuanya masuk ke dalam hujan uang itu. Hujan uang itu selesai dan pergilah semua orang itu dalam damai. 

Saya berada di atas sebuah gedung dengan beberapa orang bersama saya. Tempat yang paling menyenangkan sekaligus menakutkan, tempat yang akan selalu saya inginkan. 

Beberapa orang mengatakan saya tidak butuh uang, beberapa orang mengatakan uangmu itu haram, beberapa orang mengatakan saya senang mendapatkan uangmu dan beberapa orang tidak memperdulikannya. 

Persinggahan dua puluh satu menunjukkan detik-detik terakhirnya. Persinggahan itu akan saya lewati dan tinggallah pelajaran berceramah. Panca indera menorehkan filosofi hidup saya, pikiran saya menggariskan perilaku saya, sama sekali tidak berniat untuk bertingkah manipulatif, bukan saya yang membedakan tetapi biarlah alam yang melakukannya, tidak ingin meninggikan diri di hadapan waktu tetapi biarlah berjalan beriringan.

Saya dengan dosa saya sendiri tanpa membicarakan dosa oranglain, keaslian diri yang dibangun dengan menggunakan panca indera saya sendiri, biarlah saya dapat berdamai dengan diri saya. 

Sedalam apapun pengetahuan yang saya gali, sebanyak apapun keringat yang keluar untuk menempah diri saya, sebesar apapun keterbatasan saya, biarlah saya dapat menjawab siapa yang bersama saya dan yang tidak, biarlah saya dapat menjawab apa yang sebenarnya saya terbangkan, biarlah tekun memimpin saya ke atas gedung itu, biarlah keikhlasan menjadi mata saya, berikan saya akal budi dalam berkata-kata dan kebijaksanaan dalam memaki. Berikanlah damai bagi orang-orang yang menengadah sinis itu. 

Biarlah pertanyaan berpasangan dengan jawaban, biarlah jawaban berpasangan dengan kebijaksanaan, biarlah kebijaksanaan berpasangan dengan keikhlasan, biarlah keikhlasan berpasangan dengan saya dan saya berpasangan dengan kedamaian.

Saya berada di atas sebuah gedung dengan beberapa orang bersama saya. Tempat yang paling menyenangkan sekaligus menakutkan, tempat yang akan selalu saya inginkan.

Persinggahan dua puluh dua sebentar lagi menjemput.....................................................

Jumat, 11 Mei 2012

Sehelai Rambut

Sehelai rambut yang rontok di kasur berkata kepadaku : Lemana perginya helaian rambut lainnya? Aku biasanya tergerai dengan yang lainnya, saling menguatkan agar tidak lepas dari akarnya. Hal yang paling aku ingat adalah bagaimana kuatnya aku tertopang di akar itu, bagaimana kokohnya aku berada di sana.

Dia mengatakan lagi : Lihat aku sekarang, apa aku cukup kuat dan kokoh untuk tergerai indah? Aku hanya tinggal untuk menunggu, menunggu disapu dari kamarmu dan berakhir di tempat sampah. 

Baju Merah dan Celana Jeans

Seseorang berkata kepadaku, " Aku menyalakan api disaat aku kedinginan, Aku mengendarai mobilku disaat aku ingin pergi, Aku mendengarkan lelucon disaat aku muram, Aku menyalakan lagu disaat aku kesepian, Aku mencari bolpen disaat aku aku ingin menulis, Aku membutuhkan kopi disaat aku ingin terjaga dan Aku akan berada di kasur disaat aku ingin terlelap."

Api berkata kepadaku, " Disaat aku menyalakan diriku sendiri mencoba untuk menghangatkan, dia menjauh dariku."

Mobil berkata kepadaku, " Disaat aku ingin mengendarai diriku sendiri untuk mengajaknya pergi, dia hanya ingin diam."

Lelucon berkata kepadaku, " Disaat aku ingin menghiburnya, dia menyuruhku diam."

Lagu berkata kepadaku, " Disaat aku bernyanyi untuknya, dia menghentikan suaraku."

Bolpen berkata kepadaku, " Disaat aku ingin menulis untuknya, dia tidak pernah membacanya."

Kopi berkata kepadaku, " Disaat aku ingin membuatnya terjaga, dia memilih untuk tidur."

Kasur berkata kepadaku, " Disaat aku ingin memberikannya kenyamanan, dia memilih untuk terjaga."

Seseorang berkata kepadaku, " Aku datang bukan untuk ditampung tapi untuk dipilih, Aku datang bukan untuk bermimpi tapi untuk realita, Aku datang bukan untuk diam tapi untuk berbagi, Aku datang bukan untuk merebut tapi untuk memadu, Aku datang bukan untuk dikasihani tapi untuk menghadapi, Aku datang bukan untuk kamu tapi untuk kita dan kalaupun Aku pergi itu juga untuk kita. Disaat Aku pergi berarti aku sudah kalah tapi aku tidak menyerah. Aku menunggu."

Seseorang berkata kepadaku, " Aku bahagia hidup seperti ini. Hidupku bersama diriku tanpa merasa diganggu. Apa kamu terganggu? "

Ter-

Aku sedang duduk menatap kosong ke depan, memperhatikan orang-orang yang sedang berlalu-lalang di depanku. Aku duduk sendiri di deretan itu, sama sekali tidak berminat untuk menyapa siapapun. Aku masih terduduk dengan menghisap rokokku, tak memperdulikan siapa yang datang dan duduk di sebelahku.

Orang itu mulai bersuara dan bercerita, sangat dekat dengan telingaku. Aku hanya melirik dan tidak mengubrisnya karena kukira dia tidak sedang berbicara denganku.

Orang itu bercerita,
Aku makan sesuatu yang sudah tidak pernah kumakan lagi. Aku merangkai kata-kata yang belum pernah kudengar sebelumnya. Aku diracuni oleh makanan itu berulang-ulang kali. Aku merindukan nasi dan ikan yang biasanya selalu aku makan. Apakah tidak ada yang mengenal jenis makanan yang selalu aku makan? Memang, aku selalu memakannya seorang diri tapi kenapa di tempat ini yang notabenenya semua orang mengetahui makanan itu, tetapi, tidak memberikanku waktu sedikit saja untuk makan makanan itu. Aku berada di tempat yang salah. Bahkan perutku kuberikan untuk makanan lain yang tidak membuatku tertarik. Aku makan beramai-ramai, mengikuti selera oranglain tapi lihat aku, seolah-olah tidak punya pilihan lain selain terus memakan makanan itu. Makanan yang kucoba untuk mengerti dan membiarkannya masuk ke dalam perutku. Sementara mereka tidak mengerti ucapanku. 

Aku menolehkan muka ku melihatnya, mulai penasaran dengan analogi yang dikeluarkan oleh mulutnya. Siapa gerangan orang itu? Dia sedang menatap lurus, aku menatapnya sampai akhirnya dia sadar bahwa aku memperhatikannya dan akhirnya dia menatapku, kami saling bertatapan sejenak, lalu kami berdua tersenyum canggung tak mengerti kenapa akhirnya beradu mata. 

Setelah tatapan itu, aku membuang muka dan melanjutkan menghisap rokokku. Dia pergi entah kemana aku tidak terlalu memperhatikan. 

Kamis, 08 Maret 2012

Nescience

Gelap dan kosong, tidak ingin untuk membuatnya penuh. Beberapa waktu menyakiti diri dengan pengetahuan. Bersyukur dengan kebodohan, menahan diri dari kepintaran. Pada zamanku, orang pintar mengkakulasi. Orang sangat pintar untuk membuat semuanya sama dengan. Tak peduli semuanya seimbang atau tidak, menurut pengetahuan menjadi tidak sama dengan. Ramai pikiran menghantui amarah, akhirnya membenci pengetahuan. Setiap sudut kota memberikan ceritanya sendiri, setiap perhentian menanggalkan lelah. Pengalaman paling berharga berada disini, lelah tak ingin dilepaskan. Gundah sebagai teman, marah sebagai orangtua, kosong sebagai pelipur lara. Zaman berubah, merangsang langkah dengan cuplikan itu, setiap detil cerita. Jangan samakan zamanku dengan zamanmu, jangan pernah. Luka apa yang tertinggal, marah apa yang pernah singgah, sedih apa yang tak pernah hilang, lelah apa yang tak pernah pergi, luka apa yang tak terobati, budak mana yang siap dipenggal tanpa salah, pecundang mana yang terus dipermainkan, perek mana yang tak dibayar dan terus dinikmati, pemuka agama macam apa yang tidak ingin membalas, orang bijak macam apa yang terus memaafkan. Jangan pernah samakan, tak pernah seimbang. Kebodohan zamanku untuk era baru. Tak ingin memberikan kontribusi yang layak untuk reformasi. Pemerintahan ini akan selalu kuanggap busuk, tak beradab. Tak Ada yang lebih sengsara dari zamanku disaat era baru berkolaborasi dengan zamanmu. Kau makan habis semuanya. Jabatanmu racun. Keberadaanmu bengis. Ketidakpercayaan ini sudah terpupuk dari lama. Keraguan sudah terpupuk sejak lama. Kesinisan ini sudah terbentuk keras di dalam kepala. Keangkuhan ini sudah ada sejak lahir. Untuk era baru. Kebodohan zamanku kuberikan untuk era baru. Sekali lagi, jangan pernah samakan. Sekalipun.

Sabtu, 18 Februari 2012

:/

Please, stop pretending.
Please, stop bitching around.
Please, stop acting like that.
You got it all.
You got it all.
You got it all.
You got it all.
You got it all.

Please, stop.
You got it all.
You got it all.
You got it all.

You got it all, love.

me with my complicated mind

well, it's ok.
Well, l understand, it's just me and my complicated mind. it's just me.
Our last turnover. 

Sabtu, 14 Januari 2012

Happy New Year

I dreamed that Eden lived inside me, and when I breathed a garden came.
I dreamed I knew all of creation.
I dreamed I knew the creator's name.