sebuah bangun ruang

Hanya sebuah pandangan hidup dengan segala keterbatasan tangga yang dilalui

e-think

ABCD"E"FGHIJK....

Rabu, 15 Agustus 2012

Berdiri Di Persinggahan Dua Puluh Satu

Berjalan mundur bukanlah sebuah pilihan.
Berjalan maju adalah target.
Melihat ke depan adalah tujuan.
Melihat ke belakang adalah pelajaran bukan penyesalan. 

Saya berada di atas sebuah gedung dengan beberapa orang bersama saya. Tempat yang paling menyenangkan sekaligus menakutkan, tempat yang akan selalu saya inginkan. Terdapat beberapa orang di bawah sana melihat sinis ke arah saya dan tanpa ragu saya berteriak memaki ke arah mereka dan menerbangkan ratusan juta ke arah mereka, rasanya seperti hujan uang. Beberapa orang mengatakan saya tidak butuh uang, beberapa orang mengatakan uangmu itu haram, beberapa orang mengatakan saya senang mendapatkan uangmu dan beberapa orang tidak memperdulikannya. Hal yang paling menyedihkan ternyata secara merata uang itu terbagi, semuanya masuk ke dalam hujan uang itu. Hujan uang itu selesai dan pergilah semua orang itu dalam damai. 

Saya berada di atas sebuah gedung dengan beberapa orang bersama saya. Tempat yang paling menyenangkan sekaligus menakutkan, tempat yang akan selalu saya inginkan. 

Beberapa orang mengatakan saya tidak butuh uang, beberapa orang mengatakan uangmu itu haram, beberapa orang mengatakan saya senang mendapatkan uangmu dan beberapa orang tidak memperdulikannya. 

Persinggahan dua puluh satu menunjukkan detik-detik terakhirnya. Persinggahan itu akan saya lewati dan tinggallah pelajaran berceramah. Panca indera menorehkan filosofi hidup saya, pikiran saya menggariskan perilaku saya, sama sekali tidak berniat untuk bertingkah manipulatif, bukan saya yang membedakan tetapi biarlah alam yang melakukannya, tidak ingin meninggikan diri di hadapan waktu tetapi biarlah berjalan beriringan.

Saya dengan dosa saya sendiri tanpa membicarakan dosa oranglain, keaslian diri yang dibangun dengan menggunakan panca indera saya sendiri, biarlah saya dapat berdamai dengan diri saya. 

Sedalam apapun pengetahuan yang saya gali, sebanyak apapun keringat yang keluar untuk menempah diri saya, sebesar apapun keterbatasan saya, biarlah saya dapat menjawab siapa yang bersama saya dan yang tidak, biarlah saya dapat menjawab apa yang sebenarnya saya terbangkan, biarlah tekun memimpin saya ke atas gedung itu, biarlah keikhlasan menjadi mata saya, berikan saya akal budi dalam berkata-kata dan kebijaksanaan dalam memaki. Berikanlah damai bagi orang-orang yang menengadah sinis itu. 

Biarlah pertanyaan berpasangan dengan jawaban, biarlah jawaban berpasangan dengan kebijaksanaan, biarlah kebijaksanaan berpasangan dengan keikhlasan, biarlah keikhlasan berpasangan dengan saya dan saya berpasangan dengan kedamaian.

Saya berada di atas sebuah gedung dengan beberapa orang bersama saya. Tempat yang paling menyenangkan sekaligus menakutkan, tempat yang akan selalu saya inginkan.

Persinggahan dua puluh dua sebentar lagi menjemput.....................................................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar