sebuah bangun ruang

Hanya sebuah pandangan hidup dengan segala keterbatasan tangga yang dilalui

e-think

ABCD"E"FGHIJK....

Sabtu, 30 Juli 2011

Places

Kita udah pergi entah kemana, ke beberapa tempat yang saya dan anda inginkan. Mungkin tempat-tempat itu tidak cukup indah atau tidak cukup sempurna untuk menjadi bagian dari memori-memori yang semua orang ingin dapatkan.

Ada 1 tempat yang ingin sekali saya kunjungi dan 1 pertanyaan mengenai tempat itu akan merubah segalanya. Saya tidak bodoh untuk bertanya sekarang dan saya tidak cukup pinter dalam menerima sebuah kejutan. Anda terlalu jauh berada disana, saya tidak sempat menanyakan sebuah pertanyaan dan saya terlalu bodoh untuk membuat rencana dari itu semua.

Tempat ini tidak istimewa sama sekali. Tahun yang berbeda disaat mengantarkan anda dan saya ke benua yang berbeda. Apa perlu hanya pernyataan bodoh (lagi)? Apa saya serius? Tentu saja tidak. Ini semua hanya sebuah inspirasi yang mengantarkan saya ke gerbang keseriusan. Tunggu saja di tahun yang berbeda.

Maaf berbelit-belit. Selamat Malam Anda!

Rabu, 06 Juli 2011

nearly unreal

gue ga bilang itu ga nyata tapi hampir mendekati ga nyata.

Well, i named it as a film's victim. what they thought about love but i have my own argument. This just my argument.

Setelah gue membuat diri gue jadi hobby dengan film cheesy indo yang pasti intinya adalah cinta, gue jadi melihat ada satu yang ga make sense aja.

Gimana kalo sebenarnya cinta itu memang gada tapi itu hanya sebuah masalah ketergantungan dan masalah publik??

Ketergantungan akan banyak hal. Tidak bisa dipungkiri, realita yang terlihat sekarang itu adalah orang berpasangan berdasarkan tipe dan mereka berdua setipe, setara.

Fisik merupakan poin pertama tapi bukan utama. Bagi yang melihat materi, ketergantungan dapat terjadi karena orang tersebut ada kuasa, uang, kehormatan dan biasanya masalah tampang akan menjadi salah satu tapi tetap bukan utama. Di sisi lain, ada orang yang hanya memerlukan teman ngobrol, teman berbagi susah dan senang, jalan-jalan atau apapun itulah. Inti dari keduanya itu adalah keamanan diri sendiri. Kalo masalah tampang, hanya orang bodoh aja yang bikin itu faktor utama. Sekarang yang menjadi faktor utama adalah pemenuhan kebutuhan. Semua itu typical.

Money, power, knowledge are the best thing people can get and everyone want it.

Disaat beban untuk mencari keamanan itu terus ada, SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) menjadi isu terbesar. Kalo dilihat dari realita yang ada seperti itu, maka yang orang katakan mengenai cinta itu banyak makna dalam arti filosofis tapi buat saya sendiri cinta itu typical.

Kenapa saya menyebut cinta itu typical? Karena basically, disaat kita mengatakan kita tidak melakukan apapun tanpa dia ataupun yang membuat rasanya pas ada dia, itu namanya kebiasaan dan ketergantungan. Kebiasaan dan ketergantungan itu timbul karena ada rasa aman yang dibawa oleh orang tersebut. Aman itu bisa dari berbagai aspek, mungkin keuangan, teman bicara, motivasi atau apapun.

Perasaan dan hati bukan berada di satu tempat. Hati mempunyai fungsi yaitu memfilter darah memproduksi empedu yang dapat menawar racun dan terletak di bawah diafragma di sebelah kanan manusia tapi perasaan itu ada di otak dengan fungsinya sebagai sensorik yang terletak di kepala. Perasaan yang ada juga tidak jauh dari pernyataan bahwa manusia adalah mahluk sosial yang mempunyai kepentingan. Cinta itu typical karena adanya kepentingan.

Coba dipikirkan antara cinta, ketergantungan, kepentingan, mahluk sosial, SARA, materi dan ketidak sempurnaan yang membuat adanya perselingkuhan. Semuanya nyambung dan make sense.

Cinta itu dibuat hanya hanya untuk melabelkan sesuatu yang typical agar lebih terlihat wah. Cintu itu buta, bla blablablabla itu hanya agar membuat label cinta yang berdasarkan hal diatas itu agak eksklusif, biar ketergantungan dan kepentingan bersadarkan diatas itu dianggap sah-sah aja.

Banyak orang bilang bahwa dengan menikah kita tidak sendiri. Hal itu sangat benar. Menikah hanya membuat yang aman menjadi terpaten aman dan ada hukum yang berlaku agar lebih aman. Manusia itu ga pernah puas pasti akan mencari lebih dan menikah merupakan hak paten bahwa orang itu ga boleh kemana-kemana. Menikah adalah langkah egois yang mengikat dan anak adalah korban keegoisan itu.

Coba dipikirkan mengenai cinta, ketergantungan, kebiasaan, menikah, mengikat, egois dan anak. Oiya, faktor umur jadi isu yang besar banget sekarang.

Cinta itu typical, ada kepentingan jadi ketergantungan karena merasa aman, belum puas dengan rasa aman itu, lalu ke tahap menikah agar lebih aman lagi, punya anak agar bisa semakin mengikat.

Terserah mau bilang gue skeptis tapi gue realistis. Kalaupun nanti gue menikah dan punya anak, itu semua karena mungkin realita itu juga bekerja di sistem hidup gue, kurang lebih seperti itu yang gue percaya. Kalo gue dapet cinta berarti gue sudah cukup merasa aman dalam segala hal. Gue hanya ngga mau bikin itu semua jadi disucikan karena cinta itu sendiri berubah-rubah, ngikutin zaman. Mungkin nanti kita semua bisa memberikan sedikit kelonggaran bagi generasi-generasi mendatang agar dapat memilih berdasarkan kepentingannya, tidak usah sangkut-pautin dengan SARA atau apapun karena untuk cari orang bisa memenuhi kebutuhan diri sendiri dan membuat aman aja udah susah, gimana kalo masih harus ada embel-embel yang lain. Lagian, kalo diri sendiri bisa memenuhi kebutuhannya ngapain harus terikat, kebutuhan biologis juga bisa didapatkan tanpa ada keterikatan. Rasanya yang baru gue sampaikan make sense dan realistis. Itu pemahaman gue. 

Senin, 04 Juli 2011

huruf "t"

Sejujurnya, saaya masih bingung dengan menggunakan huruf "t" dalam kata "tuhan" apa yang membuatnya harus menjadi huruf kapital? apa dasar keharusan huruf "t" itu harus kapital? Padahal menurut saya, kata tuhan itu sendiri sudah sangat istimewa.

Apabila dikatakan bahwa huruf kapital menunjukkan keistimewaan berarti pemaknaan terhadap keistimewaan itu dipaksakan. Pemaknaan biarlah menjadi bagian dari setiap manusia tidak usah dilegitimasi kepada huruf kapital atau tidak. Pemahaman yang dimaksudkan adalah kepada huruf "t" dalam kata tuhan. HANYA DALAM KATA TERSEBUT. 

Science dan Agama

Kenapa dalam keagamaan, keberadaan alien tidaklah diindahkan atau tidak diakui keberadaannya?

Sekarang sudah ada banyak para ilmuwan yang mencoba mencari keberadaan alien dengan pasti. Mungkin alien ini adalah suatu kepercayaan yang sangat berbeda antara agama dan sciene, saling bertabrakan. Adanya ufologist dan pendidikan mengarah sana, adanya penerimaan dari NASA untuk penelitian akan hal tersebut. Info tersebut dapat anda semua cari di google.

Point yang dapat saya ambil adalah dalam keagamaan diterangkan bahwa manusia adalah ciptaan yang paling mulia dan mahluk hidup tersebut hanya ada dalam bumi. Apakah yang menentang keberadaan alien tersebut adalah pernyataan itu? Apakah manusia yang menyangkal itu karena ketergantungan hidupnya terhadap agama dan ketuhanan sehingga memilih untuk tidak percaya?

Dalam keagamaan, adanya misteri-misteri yang tidak diungkapkan dan lebih kepada pasrah terhadap apa yang sudah ada. Dalam science, justru kebalikan, misteri-misteri itu akan terus dicari dan diungkapkan.

Para pemikir akan terus mencari jalan untuk mengungkapkan misteri-misteri yang ada. Para pemikir akan terus menembus garis-garis hitam yang memblok  pemikirannya.

Apakah nilai prinsipal dalam agama dan science yang terlihat bertentangan dapat disatukan? Sebenarnya bisa saja apabila argumen-argumen dalam science itu dapat dipertimbangkan oleh agama tanpa langsung menentangnya mentah-mentah. "Againts God's Will" mungkin akan dikatakan oleh para ahli agama untuk menentang itu semua. Apakah pernyataan itu merupakan tameng yang diberikan para ahli agama untuk melindungi kesucian dari kitab suci atau menutupi rasa masih ingin tergantung kepada yang mereka sebut tuhan? Apakah pernyataan tersebut digunakan karena ketidaksanggupan manusia pada umumnya untuk mencari tau?

Sah atau tidakkah pemikiran mengenai alien tersebut? Keagamaan menyatakan tidak karena menentang nila-nilai ketuhanan yang ada. Science menyatakan sah karena jagad raya ini ada untuk diungkapkan misteri yang ada. Agama menerima mentah dan percaya, science menerima dan ingin mematangkan dengan pencarian.

Pada dasarnya, manusia ingin mencari aman, agama digunakan sebagai instrumen untuk keamanan tersebut. Dalam agama, dipercaya bahwa manusia merasa aman dengan berpegang kepada yang lebih kuat yaitu, tuhan. Apabila semua misteri jagad raya ini terungkap, tidak adanya keistimewaan tuhan dalam kehidupan, tuhan dapat dicapai oleh manusia sehingga semua orang bisa menjadi tuhan. Jadi, misteri-misteri yang ada membuat keistimewaan tuhan dan science ingin mengungkapkan misteri-misteri tersebut yang berujung kepada ketidakistimewaan tuhan.

Bila science dapat mengungkapkan  semua misteri yang ada, maka agama dan tuhan tidak istimewa, berarti manusia adalah tuhan, hilangnya mitos perasaan aman dari berpegang teguh kepada tuhan.

Jadi sebenarnya kalau dikaji ulang memang tidak bisa disatukan antara keduanya.

Kita bisa percaya keduanya tetapi tidak bisa menganut keduanya. Mungkin hal diatas dapat mengungkapkan dasar pemikiran Nietzche, "mengapa manusia tidak bisa menjadi superman".

Minggu, 03 Juli 2011

"Bem, udah bacakan yang barusan gue ketik di blog?"
"Udah. Kenapa ga di publish?"
"Ga penting."
"Rahasia?"
"Udah beberapa tahun."

"Kenapa percakapan kita di publish?"
"Supaya bikin kepo aja."
"Sok oke lo!"

"Ke Ocha juga ga pernah dibilang?"
"Mungkin udah, mungkin belom."
"Lho?"
"Lupa."

"Lo aja baru tau."
"Trus?"
"Apalagi Ocha. Dia belum bisa cukup ngerti kayaknya, Bem."
"Ko gitu?"
"Gue gamau diketawain. Gue gamau bikin sahabat gue sama kayak orang-orang yang bikin gue sangat insecure. Kalo kayak gini, gue tau batasan dia untuk bikin gue insecure.

"Bem,ko diem?"
"Gapapa."
"Perasaan lo agak ga enak."
"Terserah lo aja. Tidur gih, besok kuliah. Gue pergi dulu."
"Lho? Kemana?"
"Gatau."

Bembi pergi. Gatau mungkin kata yang paling tepat. Gue gini lagi.

Bukan Apa-Apa

Semalem Bembi cerita sama gue banyak banget soal yang selama ini gue sendiri gatau.
Entah kenapa selama ini ditutup-tutupin. Gue sendiri gatau harus cerita sama siapa dan kayaknya nulis disini udah langkah yang paling tepat. Biasanya Bembi ga pernah nutupin apapun dari gue.

Dia cerita kalo selama ini yang gue bingungin itu ada di kebingungannya dia. Bembi seseorang yang biasanya terbuka, kali ini nutupin perasaannya dari gue walaupun sebenernya dia gabisa boong. Sempet gue ngerasain perasaan dia tapi gabisa gue tolak karena keinginan dia yang terlalu besar. Bembi bukan suka sama guelah pastinya, sempet sama beberapa orang. Gue tau orangnya dan kalo gada si Bembi, gue mah biasa aja sama tuh orang malah mungkin ilfeel. Bembi dah tuh yang nutup-nutupin jadinya bikin gue kelabakan sendiri nanggepin tuh orang-orang yang dia demen.

Ada beberapa hal yang akhirnya gue sendiri tau dengan jelas. Setelah diceritain semuanya sama Bembi. Gue sendiri gatau harus cerita ke siapa masalah ini. Semua orang mungkin ga akan ngerti kecuali gue bahas langsung sama Bembi. Ada part-part yang akhirnya gue ngerti dan gue ga mungkin ngebahas ini ke sembarang orang mungkin tidak ke semua orang. Akhir-akhir ini gue sama Bembi cukup intens, sangat intens malah jadi ada beberapa hal yang akhirnya gue sadarin. Gue gabisa ceritain itu di blog ini juga. Lebih baik gue simpen aja kali ya. Hmm.. Bembi yang selama ini lebih jago nulis, ngomong dan ngayal. Bukan gue.

Gue sangat mengerti sekarang keadaannya gimana. Hubungan gue dan Bembi juga semakin jelas. Bembi perlahan-lahan ngasih liat ke gue. Mudah-mudahan gini teruslah tapi dengan batasan yang jelas.

Sabtu, 02 Juli 2011

Curhatan hati Ega kepada Bembi

HAHAHAHA Pemaksaan yang gue buat agar Ega mau mengetik dan gue mendikte.

Tiba-tiba abis nonton United States of Tara season 3, Ega jadi agak sedikit sentimentil. Entah kenapa dia tiba-tiba agak curcol dan agak dramatis (Ega gamau ngetik yang sebenarnya terjadi hahahha).

Seperti biasa dia bertanya tentang kekesalan yang baru terjadi dan rasanya menjadi grown up. Well, gue hanya bisa berkata yang seperti kemarin. Nyokapnya kaget sama mungkin sama perubahan dia dan nyokapnya belum bisa terima kalo dia udah cukup besar untuk diajak komunikasi. Orangtua selalu menganggap anaknya masih kecil jadi kaget dengan perubahaannya.

 EGA : Oke, ini part gue. Gue hanya mau menanggapi. Gue gabisa tau pikiran nyokap kayak gimana dan apa yang dia rasain kalo dia ga ngomong. Gue sama dia butuh waktu kali. (Bembi berisik!!)

Oke, kembali ke part gue ya, EGA!! This is my blog!!

EGA : This is ours!!

Hmm.. Whatever!! Sesuai judul seharusnya ini bagian gue.
Pointnya adalah setelah lo mengerti semuanya dan tau harus bagaimana dan gue menganggap lo mengetahui situasinya jadi gue menganggap lo sedikit melodramatis (ehem banyak si maksudnya). Di samping itu, barusan ega memberikan jari tengahnya ke gue yang cukup menyakitkan hati ---> Bembi lebay. Dibalik marah-marahnya Ega ke gue dan dibalik semua kesinisannya, Ega baru saja mengakui bahwa SHE NEEDS ME AROUND HER ALWAYS! Dia mengakui ketakutannya dan pikiran-pikirannya yang hanya bisa di-share ke gue. Ehem.. Banyak yang sudah di share sih. OIYA, EGA BILANG SHE LOVES ME SO MUCH AND SHE DOESN'T WANT TO LOSE ME!!!

HAHAHAHA.... Itu singkat cerita yang bisa gue kasitau yang pastinya sudah banyak yang diedit sama Ega. Gue hanya duduk di kasurnya dia sambil ketawa-ketawa menyuruh dia mengetik semua ini. SAYA PUAS!!!!!

NB : I LOVE YOU MORE, EGA SWEETY BUNNY!! Don't be such a melodramatic person, please mate!!

EGA : Anjrittttttt apa-apaan itu "ega sweety bunny" thing??? GROSS!! i know you, Bem! I'm watching you. Grrrrr.. Thanks a lot, dude!!

Jumat, 01 Juli 2011

Dear Bembi,

Maaf yang Bembi sayang gue marah-marah.

Lo nya juga berisik banget sih. Gue cuman pengen lo dengerin gue kayak biasanya aja kalo gue lagi kesel dan baru bisa kita bahas kalo gue udah ga kesel-kesel banget walaupun ujung-ujungnya lo akan kena semprot juga. Gue ngerti ko daritadi gue nanya-nanyain lo soal wajar ga gue kesel kayak gini sampe langsung balik ke Bandung. Lo ngertikan Bem, rasanya udah muncak banget soal semuanya. Gue ga ngerti apa-apa soal di rumah. Lo yang paling ngerti gue, Bem. Tindakan lo kali ini seolah-olah lo ga ngerti gue lagi. Keadaan bokap nyokap udah cukup ngeganggu gue dan mungkin salah gue karena gue mencari ketenangan di tempat yang salah. Gue cuman pengen ngobrol aja sama nyokap tentang semua hal di rumah dan gue bisa ngasih pertimbangan setidaknya ada kontribusi gue di rumah. Gue merasa gue udah cukup gede untuk tau, rasanya gue udah cukup dewasa untuk memberikan pertimbangan, rasanya gue ngerasa sudah cukup dewasa untuk mengikuti perkembangan yang ada di rumah. Selama gue di rumah, gue ngerasa kayak pendatang, ga dianggep dan mungkin ini kali ya rasanya grow up, saat yang tadinya cuek jadi ingin tau aja keadaan rumah sebenernya gimana.

Gausah panjang lebarlah ya surat gue buat lo soalnya kita juga lagi ngobrol ini sekarang. Intinya, gue minta maaf ya Bem tiba-tiba marahin lo. Yaudah,mari kita lanjutkan obrolan kita dan bersenang-senang.

 Gue gatau jadinya gimana emosi gue kalo gada lo yang berisik. Ada gunanya juga. Makasi buat semua perbicaraan kita selama ini. I love you, Bembi.

- EGA-

NB : stop cengin gue!

Kekesalan Ega dari sisi Bembi

Beberapa hari ini Ega kesal.

Hari Selasa Ega kelar UTS dan kembali ke Jakarta dengan harapan Dia nyampe rumah, masuk kamar, AC nyala udah dingin, buah ada dan Dia bisa tidur dengan nyenyak.

Saudaranya dari Medan datang dan ternyata pergi ke Bandung. Setelah ditanya kepada ibunya, mobilnya dipake oleh saudara-saudaranya. Dia mengalah.

Sesampainya di rumah, harapannya buyar saat Dia masuk kamar dan di dalam kamarnya ada banyak koper yang sudah pasti milik saudara-saudaranya. Dia mulai kesal.

Saat Dia tanya kepada ibunya ternyata memang benar itu milik saudaranya.
Saat itu Dia juga mengalah. Malam sesampainya Dia di Jakarta, Dia mengatakan kepada ibunya bahwa besok Dia harus memakai mobil karena harus pergi. Ibunya mengatakan tidak masalah.

Keesokan harinya, ternyata semuanya tidak semulus yang Dia perkirakan. Dia dan ibunya bertengkar.

Hanya hari Rabu Ega memakai mobil, Kamis dan Jumat Ega tidak membuat rencana apapun karena tidak ingin mengganggu kesibukan ayah dan ibunya.

Hari Jumat, kekesalan Ega memuncak karena saat Ega bertanya apakah hari Minggu Dia bisa membawa mobilnya untuk ke Bandung, lalu Ibunya menjawab tidak bisa karena masih ada urusan. Kekesalan Ega memuncak karena tidak ada pemberitahuan apapun.

Ega mencoba meredam emosinya dengan tidak langsung marah-marah. Ega menganggap bahwa semuanya dapat dibicarakan dengan baik-baik dan Ega masih ingin ketenangan.

Disaat emosi Ega sudah mereda, Ega mencoba membicarakan hal tersebut kepada ibunya tetapi ibunya menanggapi semuanya dengan marah. Ega sangat kesal dan memutuskan saat itu juga untuk ke Bandung.

Masalah sepele yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan tetapi Ega hanya ingin adanya komunikasi apalagi yang menyangkut dengan dirinya. Ega pulang ke rumah dengan harapan bahwa semuanya akan tenang. Ega sama sekali tidak mempersoalkan masalah mobil dan kamar yang dipakai tetapi masalahnya adalah tidak adanya komunikasi.

"Bem,gue kesel aja karena rasanya gue sama sekali tidak dianggap di dalam rumah itu. Kepentingan gue sama sekali tidak dihargai. Gue ga suka hanya dengan alasan keluarga, kepentingan gue tidak dipertimbangkan ataupun dikompromikan. Gue ke Jakarta cuman pengen tenang. Kalaupun ada perubahan-perubahan setidaknya gue tau memposisikan diri. Gue berasa kayak tamu di rumah gue sendiri. Rasanya gue lebih tenang di Bandung, walaupun sama sekali tidak terfasilitasi sebaik di rumah tapi gue ngerasa aman."

"Ga,setidaknyakan lo udah ngomong. Mungkin nyokap lo juga butuh mikirlah."

"Bem,gue inget kata-katanya Dia supaya gue bisa mengendalikan emosi gue. Gue coba ko, Bem. Gue ngomong baik-baik sama Dia. Gue bilang supaya lain kali kalo ada apa-apa ngomong apalagi kalo yang menyangkut gue."

"Ga,tapi itukan keluarga lo juga. Mungkin nyokap lo ngerasa semua hal itu ga penting juga untuk dibicarakan karena nyokap lo ngerasa lo akan mengerti."

"Bem,keluarga isinya juga orang. Mereka emang keluarga tapi gue anaknya. Keluarga yang dateng tetep pendatang. Gada yang ga penting kalo menyangkut kepentingan gue. Apa salahnya Dia bilang kalo mobil gue akan dipake sampe minggu depan karena ada keperluan-keperluan ini itu, apa salahnya Dia bilang kalo kamar gue akan dipake sama saudara-saudara gue karena mereka cukup banyak. Apa pertimbangan dan kepentingan gue ga penting?"

"Ga..."

"Udahlah Bem, lo taukan gimana keadaan rumah gue? Gue sama sekali ga pernah dikasitau. Gue ga pernah disuruh duduk dan dikasitau semua kondisi yang ada. Gue selalu disuruh ngerti dengan keadaan yang gue sendiri ga ngerti. Gue bukan anak SD lagi yang bisa terima-terima aja. Gue udah gede dan gue udah berhak untuk ngasih pertimbangan. Kalo mereka mau seenaknya, gausah sekolain gue tinggi-tinggi biar gue sama sekali gausah mikir."

"Ga,nyokap lo juga emosi mungkin."

"Halah, emang Dia pikir Dia doang yang emosi? Gue juga! Awalnya, mobil gue di Jakarta karena Dia bilang mobilnya Dia di-service. Kalo Dia ngomong, gue fine. Gue udah janji sama Bang Imas juga buat minjemin Dia mobil di Bandung dan gue udah bilang sama nyokap tapi tiba-tiba sodara gue dateng dan seenaknya Dia rubah semuanya."

"Pasti ada sisi dari nyokap lo yang lo gatau."

"Mungkin iya, makanya gue ajak Dia ngomong supaya gue tau dari sisi Dia gimana dan biar Dia tau dari sisi gue gimana. Gue ga pake marah, Bem. Cape gue di posisi yang harus ngerti tapi gue gatau apa-apa. Mau sampe kapan?"

"Lo di Bandung dululah kalo gitu. Jangan kesel-kesel lagi."

"Yaudah, gue kayak gini aja. Terserahlah di otaknya Dia gue anak kayak apa. Gue ga peduli. Dia juga gamau tau apa yang ada di otak gue. Makanlah tuh sodaranya Dia, makanlah tuh semua kepentingannya Dia. Gue berusaha gamau ganggu kepentingan Dia makanya selama gue di Jakarta gue anteng aja di rumah dan kalo mau pergi juga ngikut yang searah sama Dia. Ga pernah diliat sama Dia, Bem. Gue di Bandung ajalah biar ngga ngebebanin Dia."

"Yaa, tapi ngga gitulah, Ga."

"Udah deh Bem, kalaupun lo ngerasa gue salah, iya gue salah. Terserah, tapi gue gamau aja masalah barang aja diributin. Mendingan gue anteng di kosan."

"Ga...."

"Bem,anjing ya lo! Plis lah, gausah sok mau solusi dan jalan tengah. Gue kesel."

"Ga...."

"Bem,diem ajalah! Biarin gue pendem aja keselnya dan lo jangan nambain."

"Ga..."

"DIEM!!!!!!! PLISSSSS!!!!!"

Endingnya gue dimarain sama Ega juga padahal gue cuman pengen ngehibur supaya Dia bete-bete aja. Tapi ujung-ujungnya Ega ketawa-ketawa juga ko sama gue. Hehehhe.. Jangan bete-bete yaaa Egaaaaa.