sebuah bangun ruang

Hanya sebuah pandangan hidup dengan segala keterbatasan tangga yang dilalui

e-think

ABCD"E"FGHIJK....

Kamis, 08 Maret 2012

Nescience

Gelap dan kosong, tidak ingin untuk membuatnya penuh. Beberapa waktu menyakiti diri dengan pengetahuan. Bersyukur dengan kebodohan, menahan diri dari kepintaran. Pada zamanku, orang pintar mengkakulasi. Orang sangat pintar untuk membuat semuanya sama dengan. Tak peduli semuanya seimbang atau tidak, menurut pengetahuan menjadi tidak sama dengan. Ramai pikiran menghantui amarah, akhirnya membenci pengetahuan. Setiap sudut kota memberikan ceritanya sendiri, setiap perhentian menanggalkan lelah. Pengalaman paling berharga berada disini, lelah tak ingin dilepaskan. Gundah sebagai teman, marah sebagai orangtua, kosong sebagai pelipur lara. Zaman berubah, merangsang langkah dengan cuplikan itu, setiap detil cerita. Jangan samakan zamanku dengan zamanmu, jangan pernah. Luka apa yang tertinggal, marah apa yang pernah singgah, sedih apa yang tak pernah hilang, lelah apa yang tak pernah pergi, luka apa yang tak terobati, budak mana yang siap dipenggal tanpa salah, pecundang mana yang terus dipermainkan, perek mana yang tak dibayar dan terus dinikmati, pemuka agama macam apa yang tidak ingin membalas, orang bijak macam apa yang terus memaafkan. Jangan pernah samakan, tak pernah seimbang. Kebodohan zamanku untuk era baru. Tak ingin memberikan kontribusi yang layak untuk reformasi. Pemerintahan ini akan selalu kuanggap busuk, tak beradab. Tak Ada yang lebih sengsara dari zamanku disaat era baru berkolaborasi dengan zamanmu. Kau makan habis semuanya. Jabatanmu racun. Keberadaanmu bengis. Ketidakpercayaan ini sudah terpupuk dari lama. Keraguan sudah terpupuk sejak lama. Kesinisan ini sudah terbentuk keras di dalam kepala. Keangkuhan ini sudah ada sejak lahir. Untuk era baru. Kebodohan zamanku kuberikan untuk era baru. Sekali lagi, jangan pernah samakan. Sekalipun.